Fabolous Se7en TD1 B

Perbedaan membuat kami beda..

Melawan Penindasan Gaya dalam Desain Grafis 30 March, 2008

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 7:14 am

Melawan Penindasan Gaya dalam Desain Grafis Design Against Style

Komunikasi visual dalam jabaran terluasnya mempunyai sejarah yang panjang, yakni boleh dikatakan sejak adanya kehidupan manusia yang telah mencoba berkomunikasi lewat tanda-tanda dalam bentuk gambar-gambar sederhana. Semiotika, ilmu tentang tanda, menjadi bidang yang teramat penting untuk ditelaah dan dispesifikkan bagi pengembangan desain grafis agar dapat melakukan komunikasi dengan bahasa visual, bahasa yang tentunya dipenuhi oleh beragam tanda-tanda pemaknaan secara visual. Mengambil pengertian terluasnya, setiap orang dapat bertindak sebagai desainer, setidaknya bagi dirinya sendiri. Profesi desain grafis sendiri barulah dikenal setelah pertengahan abad keduapuluh yang salah satunya berangkat dari adanya kegiatan-kegiatan dari ‘seniman grafis’ dan ‘artis komersial’ dalam kegiatan promosi dan periklanan, yang kemudian karena makin dirasakan kebutuhannya maka berkembang pula ke bidang-bidang lain. Mulai dari gerakan Seni dan Kerajinan(Arts & Crafts Movement) kemudian masa Art Nouveau hingga tiba di masa modern Art Deco, muncul media desain grafis yang paling besar peranannya dalam menampilkan gaya-gaya desain yaitu poster, baik yang bersifat komersil maupun propaganda sosial kebudayaan dan militer. Kemajuan teknik dan perkembangan gaya-gaya desain banyak mencuat ditampilkan lewat media yang satu ini. Dalam bahasan semiotisnya, pada mulanya desain grafis mengeksplorasi bentuk-bentuk bahasa visual yang bisa dengan singkat dikenali dan dipahami maksud atau pesan yang hendak dikomunikasikan kepada audinesi yang dituju, sebuah bahasa yang mempunyai pemaknaan tunggal. Dimana meta-narasi yang dikembangkan kemudian adalah bahwa diklaim adanya sebuah cara pengolahan desain grafis yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan komunikasi dalam bahasa visual yang dikenali bersifat universal. Hal ini bisa kita lacak kembali melalui perkembangan desain grafis sejak Art Nouveau di Prancis yang kemudian berbarengan tersebar meluas di seluruh daratan Eropa. Penamaan gaya yang berbeda-beda seperti Jugendstil(Jerman/Skandinavia), Secession(Swiss/Austria), Glasgow(Inggris), dan Stile Liberty(Italia), namun tetap dalam satu nafas yang sama yaitu identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim. Pelbagai aliran senirupa turut pula memperkaya gaya art nouveau-an ini, diantaranya seperti impresionisme, nabisme dan simbolisme serta seni lukis ukiyo-e Jepang yang dominan. Desain grafis Eropa masa ini mampu membawa gerakan atau penciptaan gaya baru yang merupakan adaptasinya terhadap persinggungan dengan budaya asing. Mereka mampu menerjemahkan warna lokal dari kultur di luar dunianya untuk dipahami dalam warna lokal kulturnya sendiri, sehingga dikatakan Art Nouveau menjadi seni komersial pertama yang secara konsisten dipakai untuk mempertinggi keindahan. Perang Dunia I menjadi salah satu ajang pembuktian keterlibatan desain grafis, seperti yang bisa kita saksikan dalam poster-poster propaganda, tanda dan simbol dalam identitas militer. Kemajuan dari revolusi industri yang kemudian menggiring pada hiruk-pikuk suasana perang dunia pertama itu, telah mengilhami gerakan manifesto kaum futuris(yang berorientasi pada masa depan) dan dadais(yang berorientasi pada kritik sosial saat itu). Bersamaan dengan berbagai permasalahan sosial yang tumbuh pada masa-masa kisruh itu, muncullah aliran kubisme, konstruktivisme, de stijl, fauvis dan ekspresionis yang mempengaruhi karakteristik pengembangan desain grafis selanjutnya, yang dipanggil sebagai gaya desain Art Deco. Bahkan seni Ziggurat Mesir dan Indian Aztec turut meramaikan gaya desain ini pula. Dan Amerika yang belakangan mulai menunjukkan ke-adikuasa-annya memberi label tersendiri pada gaya ini yaitu Steramline. Tak lama berselang, berdirilah sekolah Bauhaus yang dengan upayanya memadukan seni dan teknologi, menambah kemajuan pertumbuhan berbagai gaya-gaya desain grafis, yang merupakan sintesis dari seni, desain dan teknologi. Pemahaman modernitas yang berupaya mengejar hal-hal baru dan gaya desain modern yang universal makin merebak. Masyarakat industri modern yang membawa meta-narasi tentang kemajuan dan bahasa yang universal mencapai titik kulminasinya yang tampaknya hadir melalui gaya desain dan tipografi Swiss International Style, yang memainkan peran terbesarnya pada industri desain grafis korporasi. Dimana desain sebagai seni terapan mendapatkan penjabaran rasional dan ilmiahnya sedemikian rupa. Bagi bangsa-bangsa dan negara-negara yang baru kemudian menikmati arus modernitas, maka gaya-gaya desain yang merebak dari masa ke masa di Eropa-Amerika, adalah merupakan kiblat dalam mempelajari desain grafis. Kecuali Jepang dan beberapa negara asia kecil lainnya seperti Taiwan dan Hongkong, yang cukup tangguh dan mampu menerjemahkan kembali bahasa global yang dianggap universal itu ke dalam warna kultur mereka masing-masing. Untuk dapat bersaing dalam kancah mitos globalisasi, tulis Faruk dalam bukunya Beyond Imagination, maka masyarakat suatu lokalitas harus dapat mengartikulasikan tradisinya dengan ‘bahasa’ yang dapat dimengerti oleh masyarakat-masyarakat dari berbagai lokalitas yang lain, oleh masyarakat desa global. Atau, masyarakat suatu lokalitas harus mampu pula memasuki berbagai lokalitas lain dan mengartikulasikannya dengan ‘bahasa’ sendiri. Dan menurutnya kemampuan seperti di atas tidak dapat diperoleh dengan mudah dalam waktu singkat, tetapi perlu penjelajahan dan penguasaan atas berbagai lokalitas-lokalitas tradisi di seluruh dunia. Melalui rentang waktu sejarahnya yang panjang, teori dan pemikiran dalam disiplin desain grafis tampak tidak terlepas dalam menyerap pelbagai pendekatan disiplin-disiplin keilmuan lainnya. Selain seni sebagai dasar pemikiran utamanya, desain grafis juga banyak berutang pada perkembangan ilmu-ilmu seperti linguistik, komunikasi, pemasaran, sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, filsafat, sains dan teknologi serta keilmuan lainnya dimana secara sengaja tidak sengaja disentuhkan dengan desain grafis. Pertanyaannya adalah dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada didalam masyarakat, akan bagaimana dan kemanakah desain grafis Indonesia kelak? Tak dapat dipungkiri, desain grafis masih diyakini menjadi kebutuhan bagi kalangan ‘atas’, padahal kalangan ‘bawah’ pun banyak membutuhkan kecakapan sentuhan desain grafis. Sayangnya, kenyataan dimana masih banyak masyarakat pemakainya sendiri belum cukup apresiatif akan kebutuhan ‘desain grafis’ sendiri. Dengan demikian artinya, desainer grafis sendiri harus lebih banyak lagi menunjukkan peran aktifnya dalam memenuhi ‘kebutuhan’ masyarakat di mana mereka, para pengguna jasa itu sendiri pun belum begitu menyadarinya. Pendekatan-pendekatan kemasyarakatan menjadi penting bagi pembentukan identitas majemuk desain grafis indonesia, karena dengan adanya pendekatan itu maka berbagai gaya dan teori desain yang masuk membanjir dalam dunia pendidikan dapat praktis teruji di lapangan. Penyisiran dan penyaringan berbagai pengaruh gaya-gaya desain grafis, hanya akan berlaku bila para desainer grafis telah mampu melakukan perlawanan terhadap penindasan gaya-gaya desain itu dalam karya-karyanya. Transformasi dalam pendidikan dan pengajaran dalam lembaga-lembaga pendidikan desain grafis sudah seharusnya menciptakan pola sistem adaptif yang bukan sekedar bersifat kompromistis tapi sebuah perlawanan yang juga bukanlah sekedar penolakan mentah-mentah. Sulit rasanya untuk men-transformasikan masyarakat yang sadar akan kebutuhan disain grafis, bila di dalam lembaga pendidikan desain grafis itu sendiri elemen-elemennya belumlah ber-transformasi seutuhnya. Elemen-elemen yang dikatakan sebagai simulasi masyarakat kecil itu termasuk didalamnyapara pendidik/pengajar dan koleganya serta mahasiswa berikut lingkungan civitas akademikanya. Perjuangan melawan penindasan gaya dalam desain grafis merupakan upaya titik balik untuk melihat kembali kondisi kultur visual masyarakat. Melalui pembelajaran kembali segala sesuatu tentang desain grafis yang notabene dipelajari dari luar, adalah berarti mengupayakan pengkajian dan penelitian terhadap apa yang selama ini penerimaannya berlangsung di dalam masyarakat sekeliling. Menempatkan kembali posisi desain grafis yang telah terbawa ke awang-awang kembali ke bumi dimana ia berpijak seharusnya. Kontaminasi dan mimikri yang terjadi dalam desain grafis tidak sepenuhnya dapat dihindari, tapi anggaplah bahwa perjuangan melawan penindasan gaya-gaya desain ini adalah suatu utopia dalam benak tiap komunitas kecil studi desain grafis untuk menggali dan mentranformasikan bentuk ideal desain grafis indonesia sebagai bagian dari budaya dan manusianya. Desain jalanan: Street Typographic, lalu apakah kita hendak mencari bentuk identitas visual atau katakanlah desain grafis ideal yang memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat? Identitas yang menjawab apa itu keindonesiaan? Apakah pencarian itu menjadi tujuannya? Tidak! Sama sekali bukan, identitas telah diidentikkan dengan makna homogenitas atau ke-hanya- satuan bentuk. Gambaran mental budaya bangsa-bangsa di Indonesia sangat-sangat beragam. Kita semua sudah tahu sama tahu mengenai itu, sesuai nalar masing-masing individu tentang Indonesia sebuah sebutan untuk negeri yang terbentang seluas 1.906.240 dengan 13.000 lebih kepulauan dan 600 lebih suku bangsa, yang artinya negeri yang kita panggil Indonesia ini punya ribuan pulau ke-anekaragaman untuk dijelajahi dan lautan budaya yang luas seluas-luasnya untuk diselami. Tapi pertanyaannya adalah keberagaman macam apakah yang dibentuk oleh kekayaan budaya itu. Sub-sub kultur seperti apakah yang membentuk keberagaman itu, dari yang dikatakan “kampungan” sekali hingga yang menamakan dirinya “modern sekali” atau “kontemporer” atau trendi” atau apalah kata setiap pergantian generasi di tiap zamannya. Si udik dan si kota bertemu dan saling sapa di lintasan komunikasi massa. Masyarakat adat yang tak berdaya yang dianggap tolol berhadapan dengan buldozer-buldozer masyarakat modern yang rakus. Frustasi dan ekstasi masyarakat perkotaan yang disibukkan mengejar masa depan yang hampa. Keterputusasaan sebuah masyarakat lokalitas satu dan lainnya membaur dalam komunikasi yang sudah tak jelas lagi rambu-rambunya. Hal inilah yang bisa kita perhatikan tumbuh dan berkembang dibawah kesadaran kita masing-masing. Kegiatan desain grafis dalam kancah komersial, secara langsung maupun tidak langsung bertanggungjawab atas perubahan kultur visual dalam masyarakat dimana ia berada. Mari kita lihat jalanan di kota-kota kita, lihat pula hutan-hutan gundul yang tersisa. Ada guratan-guratan yang ditinggalkan oleh para pelancong yang bertamasya, entah yang sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun, atau bertahun-tahun sampai mati atau digusur oleh yang lainnya. Vandalisme yang dianggap kultur rendahan, merambah dimana-mana, di jalanan ibukota, dinding rumah, pagar, hingga pepohonan di cagar alam hutan. Apakah yang hendak mereka sampaikan? Keisengan belakakah? Atau sebuah bukti eksistensi diri diantara himpitan tanda-tanda lain? Tata kota di indonesia yang lain dari pada yang lain, sebagai kata ganti dari ‘amburadul’, menciptakan pola pergerakan seni jalanan yang berbeda, yang sebetulnya biasa ditemukan di negara-negara berkembang yang jatuh miskin. Desain grafis, sepasang kata yang membuat miris karena lekat konotasinya dengan seni komersial, sebetulnya tanpa sadar telah bergeser menjadi seni praktis yang nyata diantara masyarakat kita. Desain grafis jalanan tidak mengenal apa itu lay out, apa itu tipografi, apa itu nirmana datar, apa itu teori warna, apa itu lettering, apa itu nirmana ruang, apa itu apa ini, tambahkan saja daftar perkuliahan Anda disini. Desain grafis jalanan lahir dari pemikiran bodoh dan absurd masyarakat kita yang buta tentang “pengetahuan seni”, tapi apakah kata-kata tadi dirasakan sebagai penghinaan? Asalamakata! Kata-kata di atas tadi adalah pujian! Pujian yang tidak dibikin demi apapun. Mereka yang menjadi desainer grafis jalanan, telah melakukan pekerjaan terbaiknya. Mereka tak mengenal teori ini itu, mereka belajar dari, katakanlah alamnya, lingkungan geografis, kondisi psikografisnya, lalu apakah mereka siap dengan gempuran dari gaya-gaya desain dari anak-anak sekolahan desain grafis, yang merasa punya hak untuk mengklaim sesuatu sebagai desain yang baik dan mana yang tidak? Layakkah pembenaran seperti itu? Dapatkah kita benar-benar melupakan barang sejenak apapun yang telah dipelajari di bangku sekolah, dan melihat dengan ketelanjangan mata pada desain-desain grafis jalanan di warung-warung pinggiran, di rumah-rumah makan jalanan, agen-agen bus perjalanan antar kota antar propinsi, coretan-coretan di pagar dinding rumah-rumah, bungkus-bungkus cemilan produksi rumahan, toko-toko kelontong, spanduk-spanduk pertandingan bola antar kampung? Desain grafis jalanan, adalah potensi pembelajaran besar bagi kita untuk melihat ke dalam kultur visual masyarakat dimana lingkungan kita tinggal. Desain grafis jalanan, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa tidak mengenal lay out, teori warna, dan sebagainya dan sebagainya tapi telah menampilkan dengan ‘buruknya’ desain tipografi terbaik dari masyarakat awam kita. Apakah ini cercaan lagi? Tidak! Ini bukan cercaan, lupakan bahasa rendah yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Pertukarkan makna kata ‘keindahan’ dengan ‘keburukan’, sehingga kita dengan mudah mengerti apa itu ‘keburukan’ yang terindah. Masyarakat visual kita mempunyai standar keindahan sendiri-sendiri, yang sebetulnya susah-susah gampang untuk dipahami, tapi pengajaran sekolah-sekolah dan/atau pendidikan tinggi telah menjauhkan kita dari pengalaman keseharian yang dipahami oleh awam, dan kita pun dijejali oleh pengetahuan akan gaya-gaya desain terbaik dari negeri seberang sana dan negeri seberang situ. Apakah ada yang salah dari itu? Tidak, tak ada yang salah dari apa yang kita pelajari, demikian pula tak ada yang salah dari apa yang dipahami oleh masyarakat kita. Tapi adalah kesalahan kita sendiri yang mengaku/menjabat dan mengambil keuntungan dari pekerjaan desainer grafis bila/tapi tak mampu memahami kultur visual masyarakat di dekat kita sendiri, dan malah mengagungkan kultur visual yang kita pelajari lewat bangku sekolah dan buku-buku impor serta acara-acara televisi asing, tanpa mampu dan berniat menggubahnya dan mengangkat kultur visual masyarakat sendiri.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, apakah kita hendak mencari dan membentuk identitas diri? Sekali lagi, tidak! Melawan penindasan gaya-gaya dalam desain grafis, hanyalah sebuah keisengan belaka. Memperhatikan dan menyaksikan desain grafis jalanan, dalam hal ini, hanyalah sebuah ajakan untuk meneliti rancangan tipografisnya(sebagai sebuah desain), adalah sebuah pertanyaan atas pemahaman tentang desain grafis itu kembali. Lalu bagaimanakah pemahaman itu? Mungkin sederhana saja, sebuah pemahaman akan psikologis, sosiologis, kultural juga komersial yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural indonesia. Tujuannya adalah proses memahami desain grafis itu kembali, bukan pengharapan akan suatu hasil akhir yang final. Jadi, lupakanlah tentang pencarian dan pembentukan identitas desain grafis indonesia, mulailah dari akar, desain grafis adalah perkara menggali visual, maka saksikanlah visual yang berada terdekat dengan kita karena sebenarnya itulah yang telah membentuk kepribadian dalam kultur visual kita sehari-hari, sebaik maupun seburuk apa pun itu dalam penilaian kita masing-masing.


 

Percetakan dan Jenisnya 26 March, 2008

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:55 pm

Percetakan

Percetakan adalah sebuah proses industri untuk pemproduksikan tulisan dan gambar secara massal, dengan menggunakan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Mesin cetak merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi. Mesin cetak digunakan untuk membuat banyak salinan halaman yang identik. Kini digunakan untuk mencetak buku dan surat kabar. Kini segalanya dapat dilakukan secara otomatis. Saat mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg, ia harus meletakkan huruf bersama-sama. Tiap huruf ada di balok logam dalam sebuah bingkai. Lalu ia bisa memindahkan kertas dan tinta di atasnya, mirip seperti perangko. Huruf itu akan meninggalkan beberapa tinta di kertas itu.

Sekarang ini banyak buku dan koran dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Biasanya gambar yang akan dicetak terlebih dahulu dilukiskan ke atas pelat offset dengan bantuan printer laser kemudian pelat ini akan diolah mesin cetak menjadi pola penintaan yang akan ditimpakan ke atas kertas cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus.

Teknik percetakan umum lainnya termasuk cetak relief, sablon, rotogravure, dan percetakan berbasis digital seperti pita jarum, inkjet, dan laser.

Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas.

Sejarah

Kemungkinan besar percetakan pertama kali ditemukan untuk mempermudah menduplikasikan Injil. Jika sebelumnya ditulis tangan di ruang scriptoria, maka sejak zaman renaisansce manusia mulai berpikir untuk mempercepat proses ini melalui produksi massal.

Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan pusat kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.

Relief uang logam menimbulkan ide untuk membuat permukaan dengan tinggi bervariasi. Hal ini dikenal dengan nama cetak tinggi. Cetak Tinggi adalah sebutan untuk teknik cetak dalam seni grafis, termasuk di dalamnya teknik cukil kayu, di mana bagian plat / papan yang akan mencetak warna adalah pada permukaan aslinya; bagian yang tak berwarna adalah bagian yang dicukil.Dan biasa juga dapat disebut dengan cetak relief

Berlawanan dengan teknik ini adalah teknik cetak intaglio, seperti yang terdapat pada engraving atau etsa.

Cetak offset

Cetak offset adalah teknik cetak yang banyak digunakan, di mana image bertinta di-transfer / dioffset terlebih dahulu dari plat ke lembaran karet, lalu ke permukaan yang akan dicetak. Ketika dikombinasikan dengan proses litografi, yang berdasarkan pada sifat air dan minyak yang tidak bercampur, maka teknik offset menggunakan sebuah pemuat citra yang rata (planographic) di mana citra yang akan dicetak mengambil tinta dari penggulung tinta (ink rollers), sementara area yang yang tidak dicetak menarik air, menyebabkan area yang tak dicetak bebas tinta.

Sablon / Cetak Saring

Sablon / Cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan serat tertentu. Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak.

Proses eksekusinya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna.

Rotogravure

Rotogravure adalah salah satu teknologi dalam dunia percetakan. Rotogravure sendiri dalam dunia grafika berarti cetak dalam. Atau dalam bahasa awam adalah teknologi cetak yang biasa digunakan untuk mencetak media yang terbuat dari bahan yang fleksibel (misalnya; berbagai jenis plastik, alumunium dan kertas serta PVC). Bahan yang akan dicetak adalah dalam bentuk rol atau gulungan. Hasil dari cetakan rotogravure tersebut tidak langsung dapat dinikmati oleh konsumen, tetapi harus melalui beberapa tahap, sbb (misalnya pembuatan kemasan makanan ringan anak-anak);

  1. Plastik hasil cetakan dilaminasi terlebih dahulu dengan menempatkan rol yang telah dicetak ke mesin laminasi, kemudian plastik rol tersebut dilapisi dengan bahan perekat dan ditempelkan ke media lain berupa “metalize” (campuran antara bahan plastik yang dilapisi dengan alumunium).
  2. Hasil rol yang telah dilaminasi kemudian dikeringkan (di “aging”) terlebih dahulu.
  3. Rol yang telah dikeringkan kemudian dibawa ke mesin “slitter”, untuk memotong gulungan panjang dan lebar menjadi ukuran tertentu sesuai dengan pesanan dari produsen makanan ringan tersebut.

Proses tersebut diatas hanya gambaran singkat saja, dibalik itu masih banyak sekali teknologi yang digunakan dalam dunia rotogravure untuk menghasilkan suatu kemasan. Mulai dari desain, pembuatan tabung silinder dari besi, pelapisan tembaga, pembuatan gambar diatas silinder besi yang telah dilapis tembaga, pelapisan chrome, pencetakan, inspeksi, laminasi, slitting (pemotongan), pembuatan kantong (kalau memang ordernya terkirim bentuk kantong) serta masih banyak lagi proses didalamnya.

Karena dalam prosesnya merubah bentuk bahan dasar menjadi bahan jadi, biasanya proses ini dinamakan proses “converting” atau dengan kata lain adalah “converting industry”

Adapun beberapa contoh sehari-hari dari hasil converting adalah, sebagai berikut; 1. Kemasan mi instan 2. Kemasan obat-obatan (selain kapsulnya dan syrup serta tetes mata) 3. Kemasan makanan ringan 4. Kemasan label botol air mineral dan air isotonik (dinamakan shrink label) 5. Tutup gelas minuman air mineral dll (lid cup) 6. Dan sejenisnya.

Digital Printing

Cetak digital adalah semua teknologi reproduksi yang menerima data elektronik dan menggunakan titik (dot) untuk replikasi. Semua mesin cetak yang memanfaatkan komputer sebagai sumber data dan proses cetak memanfaat prinsip titik; dimana gambar atau image pada material (kertas, plastik, tekstil dll) tersusun dari kumpulan titik-titik.

Definisi printer,copier,press
Berdasarkan mesin cetak aplikasi yang ada, maka cetak digital secara garis besar digolongkan 3;
(1) printer – seperti; printer untuk Personal Computer (PC)
(2) copier – seperti; mesin fotokopi yang dilengkapi dengan scanner
(3) press – seperti; mesin cetak offset.

Printer adalah semua teknologi,mesin cetak yang membuat gambar atau image pada kertas yang diambil dari data/file komputer; menghasilkan turunan cetak pertama atau cetak asli dimana setiap cetakan bisa unik atau berubah. Ciri ini memberi kemampuan personalisasi bahan cetakan. Semua dokumen bisa menjadi individual. Teknologi tinta yang dipakai bisa inkjet, wax-transfer dan toner.

Copier atau mesin fotokopi, dicirikan dengan alat scanner; menghasilkan cetakan turunan kedua. Mesin fotokopi dapat menggandakan cetakan turunan pertama. Tinta yang umum dipakai adalah toner, menggunakan teknologi elektrofotografi.

Press atau mesin cetak press, dicirikan dengan sistim mekanis yang mengandalkan penghantar (carrier) image untuk mereplikasi atau menggandakan suatu gambar yang sama ke material (kertas) cetak secara berulang dan terus menerus. Umum ditemukan pada alat cetak offset lithografi, yang memungkinkan melakukan pencetakan dalam ukuran kertas dan jumlah besar.

Dalam perkembangan mesin cetak aplikasi digital, dari ke tiga kelompok tersebut berkembang mesin campuran;
1. Printer Press
2. Press Printer
3. Scanner Printer.

Printer Press, sering disebut sebagai alat cetak printer (dokumen turunan pertama)kualitas tinggi baik hitam putih atau warna. Kecepatan mesin printer mencapai 50 lembar per menit atau lebih, yang dilengkapi dengan belt untuk mempercepat “delivery” dan menahan kertas dengan efek elektrik statik. Belt menggantikan fungsi roller yang sering menimbulkan masalah jamming untuk kecepatan tinggi. Alat printer ini memungkinkan membuat image yang dinamis / berubah pada photoconductor belt atau drum untuk setiap 50 lembar cetakan. Tak jarang alat printer ini dilengkapi dengan fasilitas penjilidan dan finishing.

Press Printer, alat mesin cetak offset press dengan proses pembuatan penghantar image langsung diatas mesin offset – tanpa proses prepress diluar mesin cetak, yang ditambahkan dengan alat cetak printer pada bagian akhir untuk memberikan informasi yang dinamis / berubah. Biasanya alat cetak printer tambahan ini menggunakan teknologi tinta inkjet.

Scanner Printer, alat cetak printer yang dilengkapi dengan peralatan scanner. Mesin cetak ini dilengkapi jaringan yang berhubungan dengan RIP, raster image processor, memungkinkan untuk melakukan modifikasi image hasil dari scanning. Jenis informasi adalah dokumen turunan pertama, ini berbeda dengan mesin copier yang sering rancu karena sama-sama menggunakan peralatan scanner.

Reproduksi Informasi
Untuk lebih memahami konsep digital printing, maka secara garis besar ada 2 kelompok reproduksi informasi;
1. Static printing
2. Dynamic Printing.

Static Printing, proses menggandakan informasi yang sama dan tetap dalam jumlah yang besar. Untuk merubah informasi dari satu hasil cetakan harus mengeluarkan daya upaya, biaya dan jumlah cetakan yang besar yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kita mengacu pada proses cetak tradisional seperti mesin cetak offset, dimana image carrier yaitu blanket memuat informasi yang sama dan tetap untuk sejumlah lembar cetakan.

Dynamic Printing, proses menggandakan suatu informasi yang bisa berubah-ubah untuk setiap lembar cetakan. Kita bisa mengacu pada mesin copier atau fotokopi, yang dapat menggandakan setiap lembar kertas dengan informasi berbeda tergantung pada informasi yang ingin dikopi.

Berdasarkan ciri dan sifat umum diatas maka dynamic printing banyak ditemukan pada peralatan, metoda dan teknologi digital printing. Kemampuan memberikan dinamika informasi terkait erat dengan penggunaan file dan/atau komputer itu sendiri. Komputer merupakan tonggak utama digital printing.

Parameter Reproduksi Informasi
Secara garis besar terdapat 2 kelompok parameter yaitu;
– Parameter utama dan
– Parameter pelengkap untuk membedakan Static and Dynamic Printing, dan sekaligus panduan dalam menggunakan masing-masing jenis cetakan.

Parameter utama, parameter yang bersifat unik dan khas dalam membedakan static dan dynamis printing, terdiri dari;
1. Image carrier
2. Variability informasi
3. Cycle time
4. Jumlah cetakan
5. Front cost
Lebih lanjut penjelasannya dapat dilihat paragraf berikut “Pendefinisian Digital Printing”.

Parameter pelengkap, parameter yang sifatnya terus berkembang dan berubah dimana suatu saat memungkinkan tidak adanya perbedaan berarti dan unik antara static dan dynamic printing, terdiri dari;
1. Kualitas cetakan
2. Jenis kertas
3. Ukuran kertas
4. Jenis material tinta
Lebih lanjut penjelasannya pada paragraf “Teknologi Peralatan Digital Printing”.

Pendefinisian Digital Printing
Dengan memahami parameter-parameter diatas dengan gampang kita melihat dan mendefinisikan multi aspek dan nama digital printing. Dynamic printing sendiri merupakan benang merah dari istilah digital printing, dimana penggunaan file komputer dan komputer merupakan cikal bakal perkembangan digital printing.

Perkembangan teknologi dari parameter-parameter utama reproduksi informasi menggiring perkembangan digital printing ke aspek-aspek, antara lain;

1. Direct Imaging;
Berkaitan dengan proses pembuatan “image carrier” (pengahantar image seperti plat dan blanket)

2. Variable Printing
Berkaitan dengan variable informasi

3. On-Demand Printing
Berkaitan dengan jumlah cetakan, cycle time dan front cost

4. Distributed Printing
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan

5. Digital Prepress dan Workflow
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan

Impact & Non-Impact printing
Apakah faktor impact dan non-impatc printing mempunyai dan berperanan dalam perkembangan digital printing?. Jawabannya iya dan tidak, pada awalnya semua digital printing mengacu pada non-impact printing wlaupun dengan teknologi direct imaging kita bisa bisa melakukan proses cetak lithografi yang impact printing.

Namun yang jelas istilah ini bukan menjadi faktor yang mendefinisikan digital printing.
Impact Printing, ditandadi dengan kontaknya pembawa image dengan material cetak (kertas, plastik).

Teknologi Peralatan Digital Printing
Perkembangan teknologi perlatan digital printing sangat dipengaruhi oleh penggunaaan material tinta, antara lain;
Tinta, toner, ink jet, dll

 

Desain Grafis

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:50 pm

Pengertian Desain Grafis

Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan teks dan atau gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan. Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan termasuk tipografi, pengolahan gambar, dan page layout. Desainer grafis juga berperan dalam menata tampilan huruf dan ruang komposisi untuk menciptakan sebuah rancangan yang efektif dan komunikatif. Desain grafis melingkupi segala bidang yang membutuhkan penerjemahan bahasa verbal menjadi perancangan secara visual terhadap teks dan gambar pada berbagai media publikasi guna menyampaikan pesan-pesan kepada komunikan seefektif mungkin.

Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis komunikasi lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan (mendesain) atau pun produk yang dihasilkan (desain/rancangan). Desain grafis pada awalnya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik – yang sering kali disebut sebagai desain interaktif (interactive design), atau desain multimedia (multimedia design’)

Prinsip dan unsur desain

Unsur dalam desain grafis sama seperti unsur dasar dalam desain pada umumnya. Unsur-unsur tersebut (termasuk shape, bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna) membentuk prinsip-prinsip dasar desain visual. Prinsip-prinsip tersebut, seperti keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi (proportion) dan kesatuan (unity), kemudian membentuk aspek struktural komposisi yang lebih luas.

Peralatan desain grafis

Pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang (desainer) untuk melihat efek dari layout atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.

Pada umumnya komputer dianggap sebagai alat yang sangat diperlukan dalam industri desain grafis. Komputer dan aplikasi perangkat lunak umumnya dipandang, oleh para profesional kreatif, sebagai alat produksi yang lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan metode tradisional. Akan tetapi, beberapa perancang grafis melanjutkan penggunaan alat manual dan tradisional dalam berkarya, seperti misalnya Milton Glaser

Ada perdebatan mengenai apakah komputer meningkatkan proses kreatif dalam desain grafis. Produksi yang cepat dari komputer memungkinkan para perancang grafis untuk mengeksplorasi banyak ide secara cepat dan lebih detail dari yang bisa dicapai dengan kerja goresan tangan atau potong-tempel pada kertas. Akan tetapi, dihadapkan pada pilihan yang tak terbatas semacam ini kadangkala tidak menghasilkan solusi desain yang terbaik dan kadang hanya membuat berputar-putar tanpa hasil yang jelas

Ide-ide baru seringkali datang dengan uji coba pada alat dan metode, baik itu media tradisional maupun digital. Beberapa perancang grafis profesional mengeksplorasi ide menggunakan pensil di atas kertas untuk menghindari keterbatasan komputer, memungkinkan mereka berpikir di luar kotak. Beberapa ide kreatif dari desain grafis diawali serta dikembangkan bahkan sampai mendekati hasil akhir dalam pikiran, sebelum diterapkan baik dengan metode tradisional maupun komputer. Ada juga yang pembentukan visualisasi terbantu dengan penggunaan komputer dengan kemampuan pembuatan gambar yang kompleks dan cepat.

Seorang perancang grafis bisa juga menggunakan sketsa untuk mengeksplorasi ide-ide yang kompleks secara cepat tanpa pecah konsentrasi karena masalah teknis dari perangkat lunak komputer. “Comp” ( istilah dalam desain grafis yang merujuk pada rancangan awal untuk diajukan pada klien, kependekan dari comprehensive layout), buatan tangan seringkali dipakai untuk mendapatkan persetujuan dari sebuah ide desain grafis. Sketsa yang berupa thumbnail atau coretan-coretan rancangan kasar pada kertas bisa juga digunakan untuk menghasilkan ide dalam sebuah proses hybrida (gabungan antara penggunaan komputer dan goresan tangan). Proses hybrida semacam ini khususnya berguna pada pembuatan desain logo di mana masalah teknis dari perangkat lunak seringkali memecahkan konsentrasi. Proses hybrida juga dipakai untuk membebaskan kreativitas seseorang dalam pembuatan layout halaman atau pengembangan image. Seorang perancang grafis tradisional bisa juga mempekerjakan seniman produksi (production artist) yang mahir menggunakan komputer untuk mewujudkan ide dari sketsa yang dibuatnya.

Beberapa Software Dalam Desain Grafis

Perkembangan software tentunya akan menghasilkan gambar yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari penggunaan software. Ada beberapa software yang digunakan dalam hal desain grafis antara lain : 1. Adobe Photoshop 2. Adobe Illustrator 3. Adobe After Effect 4. AutoCad 5. Maya 4.5 6. CorelDraw 7. dll Dalam hal ini, untuk menghasilkan suatu gambar yang mempunyai nilai seni tinggi tidak sekedar pengguasaan software itu sendiri tetapi lebih cendrung kepada seni dan kreatifitas serta imajinasi dalam menuangkan ke dalam gambar tersebut

 

Hai??.. 11 March, 2008

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:25 pm

 

 

fabolous-seven-2.jpg

Hai salam kenal,kami mahasiswa/i UNTAR jurusan DKV yang mengambil mata kulia Tinjauan Desain 1, mendapat tugas untuk membuat blog yang diharapkan tidak hanya sebagai pemenuhan nilai tugas saja tetapi agar blog ini dapat menjadi salah satu sarana bagi pembaca .

TEAM :


elvira F.c

Nama : Elvira F.C (love_u_piggy@yahoo.com)

NIM : 625060059

Hobby: Baca, telponan, tidur, gambar, dan menyibukkan diri

No tel : 081808025615

Zodiak : Capricorn

Tgl Lahir : 15 Januari 1988

Alasan masuk DKV : Karena dkv itu menarik dan penuh tantangan..

 

afrino.jpg

Nama : Afrino Trianto Senjaya

NIM : 625060093

Hobby : Menyanyi,main game,tidur,menggambar,shopping

No Tel : 021-5641391/92 Hp:081932953819

Zodiak : Aries

Tgl Lahir : 8 april 1988

Alasan masuk DKV : minat

 

raphael.jpg

Nama : Raphael huslin

NIM : 625060132

Hobby : Membaca novel, dengar lagu, nonton film

No Tel : 081932488055

Zodiak : Pisces

Tgl Lahir : 5 maret 1988

Alasan masuk DKV : saya sangat suka dengan segala hal yang berhubungan dengan desain, terutama desain grafis.


 

caroline.jpg

Nama : Caroline wahyudi Sastra

NIM : 625060029

Hobby : makan,tidur,shopping,berenang

No Tel : 021-5601656 HP:02191612068

Zodiak : Taurus

Tgl Lahir : 25 April 1988

Alasan masuk DKV : minat

 

 

mariska.jpg

Nama : Mariska kosasih

NIM : 625060112

Hobby : tidur , nonton , kadang baca..hehehE

No tel : 081807085500

Zodiak: pisces

Tgl lahir : 16 – Maret – 1988

Alasan msuk dkv : tadinya mau arsitek, tapi sepertinya tidak sanggup.. mau mesin gak boleh.. jadinya nyasar di dkv deh.. 😛


 

hanny.jpg

Nama: Hanny Christina

NIM : 625060068

Hobi: Jalan-jalan, nonton,denger musik, mencoba hal-hal baru.

No. Telp : 081932851351

Zodiak : Sagitarius

Tanggal lahir : 08 Desember 1988.

Alasan masuk DKV : Karena saya merasa senang dan tertarik melihat karya-karya seni yang luar biasa, saya merasa penasaran dengan cara pembuatan, tekhnik, proses, dll. Dan DKV juga merupakan jurusan yang menarik dan lain daripada yang lain.


 

^^kami

Nama : Eddy

NIM : 625060156

Hobby: menggambar, nonton anime, dorama (drama jepang)

No tel : –

Zodiak : Scorpio

Tgl Lahir : 19 November 1987

Alasan masuk DKV : Karena mau mewujudkan mimpi jadi animator kelas atas

Oiya foto eddy yang paling kiri ya 😀

 

Selamat membaca ^^

with loph,fabolousse7entd1

 

foto2 kami fabolousse7entd1

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:14 pm

^^kamielvira F.ccaroline.jpgafrino.jpghanny.jpgmariska.jpgraphael.jpg

* kami^^

* mulai dari ki-ka : Elvira F.C, Caroline, Afrino, Hanny, Mariska, Raphael