Fabolous Se7en TD1 B

Perbedaan membuat kami beda..

Melawan Penindasan Gaya dalam Desain Grafis 30 March, 2008

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 7:14 am

Melawan Penindasan Gaya dalam Desain Grafis Design Against Style

Komunikasi visual dalam jabaran terluasnya mempunyai sejarah yang panjang, yakni boleh dikatakan sejak adanya kehidupan manusia yang telah mencoba berkomunikasi lewat tanda-tanda dalam bentuk gambar-gambar sederhana. Semiotika, ilmu tentang tanda, menjadi bidang yang teramat penting untuk ditelaah dan dispesifikkan bagi pengembangan desain grafis agar dapat melakukan komunikasi dengan bahasa visual, bahasa yang tentunya dipenuhi oleh beragam tanda-tanda pemaknaan secara visual. Mengambil pengertian terluasnya, setiap orang dapat bertindak sebagai desainer, setidaknya bagi dirinya sendiri. Profesi desain grafis sendiri barulah dikenal setelah pertengahan abad keduapuluh yang salah satunya berangkat dari adanya kegiatan-kegiatan dari ‘seniman grafis’ dan ‘artis komersial’ dalam kegiatan promosi dan periklanan, yang kemudian karena makin dirasakan kebutuhannya maka berkembang pula ke bidang-bidang lain. Mulai dari gerakan Seni dan Kerajinan(Arts & Crafts Movement) kemudian masa Art Nouveau hingga tiba di masa modern Art Deco, muncul media desain grafis yang paling besar peranannya dalam menampilkan gaya-gaya desain yaitu poster, baik yang bersifat komersil maupun propaganda sosial kebudayaan dan militer. Kemajuan teknik dan perkembangan gaya-gaya desain banyak mencuat ditampilkan lewat media yang satu ini. Dalam bahasan semiotisnya, pada mulanya desain grafis mengeksplorasi bentuk-bentuk bahasa visual yang bisa dengan singkat dikenali dan dipahami maksud atau pesan yang hendak dikomunikasikan kepada audinesi yang dituju, sebuah bahasa yang mempunyai pemaknaan tunggal. Dimana meta-narasi yang dikembangkan kemudian adalah bahwa diklaim adanya sebuah cara pengolahan desain grafis yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan komunikasi dalam bahasa visual yang dikenali bersifat universal. Hal ini bisa kita lacak kembali melalui perkembangan desain grafis sejak Art Nouveau di Prancis yang kemudian berbarengan tersebar meluas di seluruh daratan Eropa. Penamaan gaya yang berbeda-beda seperti Jugendstil(Jerman/Skandinavia), Secession(Swiss/Austria), Glasgow(Inggris), dan Stile Liberty(Italia), namun tetap dalam satu nafas yang sama yaitu identifikasi visual berupa bentuk-bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminim. Pelbagai aliran senirupa turut pula memperkaya gaya art nouveau-an ini, diantaranya seperti impresionisme, nabisme dan simbolisme serta seni lukis ukiyo-e Jepang yang dominan. Desain grafis Eropa masa ini mampu membawa gerakan atau penciptaan gaya baru yang merupakan adaptasinya terhadap persinggungan dengan budaya asing. Mereka mampu menerjemahkan warna lokal dari kultur di luar dunianya untuk dipahami dalam warna lokal kulturnya sendiri, sehingga dikatakan Art Nouveau menjadi seni komersial pertama yang secara konsisten dipakai untuk mempertinggi keindahan. Perang Dunia I menjadi salah satu ajang pembuktian keterlibatan desain grafis, seperti yang bisa kita saksikan dalam poster-poster propaganda, tanda dan simbol dalam identitas militer. Kemajuan dari revolusi industri yang kemudian menggiring pada hiruk-pikuk suasana perang dunia pertama itu, telah mengilhami gerakan manifesto kaum futuris(yang berorientasi pada masa depan) dan dadais(yang berorientasi pada kritik sosial saat itu). Bersamaan dengan berbagai permasalahan sosial yang tumbuh pada masa-masa kisruh itu, muncullah aliran kubisme, konstruktivisme, de stijl, fauvis dan ekspresionis yang mempengaruhi karakteristik pengembangan desain grafis selanjutnya, yang dipanggil sebagai gaya desain Art Deco. Bahkan seni Ziggurat Mesir dan Indian Aztec turut meramaikan gaya desain ini pula. Dan Amerika yang belakangan mulai menunjukkan ke-adikuasa-annya memberi label tersendiri pada gaya ini yaitu Steramline. Tak lama berselang, berdirilah sekolah Bauhaus yang dengan upayanya memadukan seni dan teknologi, menambah kemajuan pertumbuhan berbagai gaya-gaya desain grafis, yang merupakan sintesis dari seni, desain dan teknologi. Pemahaman modernitas yang berupaya mengejar hal-hal baru dan gaya desain modern yang universal makin merebak. Masyarakat industri modern yang membawa meta-narasi tentang kemajuan dan bahasa yang universal mencapai titik kulminasinya yang tampaknya hadir melalui gaya desain dan tipografi Swiss International Style, yang memainkan peran terbesarnya pada industri desain grafis korporasi. Dimana desain sebagai seni terapan mendapatkan penjabaran rasional dan ilmiahnya sedemikian rupa. Bagi bangsa-bangsa dan negara-negara yang baru kemudian menikmati arus modernitas, maka gaya-gaya desain yang merebak dari masa ke masa di Eropa-Amerika, adalah merupakan kiblat dalam mempelajari desain grafis. Kecuali Jepang dan beberapa negara asia kecil lainnya seperti Taiwan dan Hongkong, yang cukup tangguh dan mampu menerjemahkan kembali bahasa global yang dianggap universal itu ke dalam warna kultur mereka masing-masing. Untuk dapat bersaing dalam kancah mitos globalisasi, tulis Faruk dalam bukunya Beyond Imagination, maka masyarakat suatu lokalitas harus dapat mengartikulasikan tradisinya dengan ‘bahasa’ yang dapat dimengerti oleh masyarakat-masyarakat dari berbagai lokalitas yang lain, oleh masyarakat desa global. Atau, masyarakat suatu lokalitas harus mampu pula memasuki berbagai lokalitas lain dan mengartikulasikannya dengan ‘bahasa’ sendiri. Dan menurutnya kemampuan seperti di atas tidak dapat diperoleh dengan mudah dalam waktu singkat, tetapi perlu penjelajahan dan penguasaan atas berbagai lokalitas-lokalitas tradisi di seluruh dunia. Melalui rentang waktu sejarahnya yang panjang, teori dan pemikiran dalam disiplin desain grafis tampak tidak terlepas dalam menyerap pelbagai pendekatan disiplin-disiplin keilmuan lainnya. Selain seni sebagai dasar pemikiran utamanya, desain grafis juga banyak berutang pada perkembangan ilmu-ilmu seperti linguistik, komunikasi, pemasaran, sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, filsafat, sains dan teknologi serta keilmuan lainnya dimana secara sengaja tidak sengaja disentuhkan dengan desain grafis. Pertanyaannya adalah dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada didalam masyarakat, akan bagaimana dan kemanakah desain grafis Indonesia kelak? Tak dapat dipungkiri, desain grafis masih diyakini menjadi kebutuhan bagi kalangan ‘atas’, padahal kalangan ‘bawah’ pun banyak membutuhkan kecakapan sentuhan desain grafis. Sayangnya, kenyataan dimana masih banyak masyarakat pemakainya sendiri belum cukup apresiatif akan kebutuhan ‘desain grafis’ sendiri. Dengan demikian artinya, desainer grafis sendiri harus lebih banyak lagi menunjukkan peran aktifnya dalam memenuhi ‘kebutuhan’ masyarakat di mana mereka, para pengguna jasa itu sendiri pun belum begitu menyadarinya. Pendekatan-pendekatan kemasyarakatan menjadi penting bagi pembentukan identitas majemuk desain grafis indonesia, karena dengan adanya pendekatan itu maka berbagai gaya dan teori desain yang masuk membanjir dalam dunia pendidikan dapat praktis teruji di lapangan. Penyisiran dan penyaringan berbagai pengaruh gaya-gaya desain grafis, hanya akan berlaku bila para desainer grafis telah mampu melakukan perlawanan terhadap penindasan gaya-gaya desain itu dalam karya-karyanya. Transformasi dalam pendidikan dan pengajaran dalam lembaga-lembaga pendidikan desain grafis sudah seharusnya menciptakan pola sistem adaptif yang bukan sekedar bersifat kompromistis tapi sebuah perlawanan yang juga bukanlah sekedar penolakan mentah-mentah. Sulit rasanya untuk men-transformasikan masyarakat yang sadar akan kebutuhan disain grafis, bila di dalam lembaga pendidikan desain grafis itu sendiri elemen-elemennya belumlah ber-transformasi seutuhnya. Elemen-elemen yang dikatakan sebagai simulasi masyarakat kecil itu termasuk didalamnyapara pendidik/pengajar dan koleganya serta mahasiswa berikut lingkungan civitas akademikanya. Perjuangan melawan penindasan gaya dalam desain grafis merupakan upaya titik balik untuk melihat kembali kondisi kultur visual masyarakat. Melalui pembelajaran kembali segala sesuatu tentang desain grafis yang notabene dipelajari dari luar, adalah berarti mengupayakan pengkajian dan penelitian terhadap apa yang selama ini penerimaannya berlangsung di dalam masyarakat sekeliling. Menempatkan kembali posisi desain grafis yang telah terbawa ke awang-awang kembali ke bumi dimana ia berpijak seharusnya. Kontaminasi dan mimikri yang terjadi dalam desain grafis tidak sepenuhnya dapat dihindari, tapi anggaplah bahwa perjuangan melawan penindasan gaya-gaya desain ini adalah suatu utopia dalam benak tiap komunitas kecil studi desain grafis untuk menggali dan mentranformasikan bentuk ideal desain grafis indonesia sebagai bagian dari budaya dan manusianya. Desain jalanan: Street Typographic, lalu apakah kita hendak mencari bentuk identitas visual atau katakanlah desain grafis ideal yang memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat? Identitas yang menjawab apa itu keindonesiaan? Apakah pencarian itu menjadi tujuannya? Tidak! Sama sekali bukan, identitas telah diidentikkan dengan makna homogenitas atau ke-hanya- satuan bentuk. Gambaran mental budaya bangsa-bangsa di Indonesia sangat-sangat beragam. Kita semua sudah tahu sama tahu mengenai itu, sesuai nalar masing-masing individu tentang Indonesia sebuah sebutan untuk negeri yang terbentang seluas 1.906.240 dengan 13.000 lebih kepulauan dan 600 lebih suku bangsa, yang artinya negeri yang kita panggil Indonesia ini punya ribuan pulau ke-anekaragaman untuk dijelajahi dan lautan budaya yang luas seluas-luasnya untuk diselami. Tapi pertanyaannya adalah keberagaman macam apakah yang dibentuk oleh kekayaan budaya itu. Sub-sub kultur seperti apakah yang membentuk keberagaman itu, dari yang dikatakan “kampungan” sekali hingga yang menamakan dirinya “modern sekali” atau “kontemporer” atau trendi” atau apalah kata setiap pergantian generasi di tiap zamannya. Si udik dan si kota bertemu dan saling sapa di lintasan komunikasi massa. Masyarakat adat yang tak berdaya yang dianggap tolol berhadapan dengan buldozer-buldozer masyarakat modern yang rakus. Frustasi dan ekstasi masyarakat perkotaan yang disibukkan mengejar masa depan yang hampa. Keterputusasaan sebuah masyarakat lokalitas satu dan lainnya membaur dalam komunikasi yang sudah tak jelas lagi rambu-rambunya. Hal inilah yang bisa kita perhatikan tumbuh dan berkembang dibawah kesadaran kita masing-masing. Kegiatan desain grafis dalam kancah komersial, secara langsung maupun tidak langsung bertanggungjawab atas perubahan kultur visual dalam masyarakat dimana ia berada. Mari kita lihat jalanan di kota-kota kita, lihat pula hutan-hutan gundul yang tersisa. Ada guratan-guratan yang ditinggalkan oleh para pelancong yang bertamasya, entah yang sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun, atau bertahun-tahun sampai mati atau digusur oleh yang lainnya. Vandalisme yang dianggap kultur rendahan, merambah dimana-mana, di jalanan ibukota, dinding rumah, pagar, hingga pepohonan di cagar alam hutan. Apakah yang hendak mereka sampaikan? Keisengan belakakah? Atau sebuah bukti eksistensi diri diantara himpitan tanda-tanda lain? Tata kota di indonesia yang lain dari pada yang lain, sebagai kata ganti dari ‘amburadul’, menciptakan pola pergerakan seni jalanan yang berbeda, yang sebetulnya biasa ditemukan di negara-negara berkembang yang jatuh miskin. Desain grafis, sepasang kata yang membuat miris karena lekat konotasinya dengan seni komersial, sebetulnya tanpa sadar telah bergeser menjadi seni praktis yang nyata diantara masyarakat kita. Desain grafis jalanan tidak mengenal apa itu lay out, apa itu tipografi, apa itu nirmana datar, apa itu teori warna, apa itu lettering, apa itu nirmana ruang, apa itu apa ini, tambahkan saja daftar perkuliahan Anda disini. Desain grafis jalanan lahir dari pemikiran bodoh dan absurd masyarakat kita yang buta tentang “pengetahuan seni”, tapi apakah kata-kata tadi dirasakan sebagai penghinaan? Asalamakata! Kata-kata di atas tadi adalah pujian! Pujian yang tidak dibikin demi apapun. Mereka yang menjadi desainer grafis jalanan, telah melakukan pekerjaan terbaiknya. Mereka tak mengenal teori ini itu, mereka belajar dari, katakanlah alamnya, lingkungan geografis, kondisi psikografisnya, lalu apakah mereka siap dengan gempuran dari gaya-gaya desain dari anak-anak sekolahan desain grafis, yang merasa punya hak untuk mengklaim sesuatu sebagai desain yang baik dan mana yang tidak? Layakkah pembenaran seperti itu? Dapatkah kita benar-benar melupakan barang sejenak apapun yang telah dipelajari di bangku sekolah, dan melihat dengan ketelanjangan mata pada desain-desain grafis jalanan di warung-warung pinggiran, di rumah-rumah makan jalanan, agen-agen bus perjalanan antar kota antar propinsi, coretan-coretan di pagar dinding rumah-rumah, bungkus-bungkus cemilan produksi rumahan, toko-toko kelontong, spanduk-spanduk pertandingan bola antar kampung? Desain grafis jalanan, adalah potensi pembelajaran besar bagi kita untuk melihat ke dalam kultur visual masyarakat dimana lingkungan kita tinggal. Desain grafis jalanan, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa tidak mengenal lay out, teori warna, dan sebagainya dan sebagainya tapi telah menampilkan dengan ‘buruknya’ desain tipografi terbaik dari masyarakat awam kita. Apakah ini cercaan lagi? Tidak! Ini bukan cercaan, lupakan bahasa rendah yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Pertukarkan makna kata ‘keindahan’ dengan ‘keburukan’, sehingga kita dengan mudah mengerti apa itu ‘keburukan’ yang terindah. Masyarakat visual kita mempunyai standar keindahan sendiri-sendiri, yang sebetulnya susah-susah gampang untuk dipahami, tapi pengajaran sekolah-sekolah dan/atau pendidikan tinggi telah menjauhkan kita dari pengalaman keseharian yang dipahami oleh awam, dan kita pun dijejali oleh pengetahuan akan gaya-gaya desain terbaik dari negeri seberang sana dan negeri seberang situ. Apakah ada yang salah dari itu? Tidak, tak ada yang salah dari apa yang kita pelajari, demikian pula tak ada yang salah dari apa yang dipahami oleh masyarakat kita. Tapi adalah kesalahan kita sendiri yang mengaku/menjabat dan mengambil keuntungan dari pekerjaan desainer grafis bila/tapi tak mampu memahami kultur visual masyarakat di dekat kita sendiri, dan malah mengagungkan kultur visual yang kita pelajari lewat bangku sekolah dan buku-buku impor serta acara-acara televisi asing, tanpa mampu dan berniat menggubahnya dan mengangkat kultur visual masyarakat sendiri.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, apakah kita hendak mencari dan membentuk identitas diri? Sekali lagi, tidak! Melawan penindasan gaya-gaya dalam desain grafis, hanyalah sebuah keisengan belaka. Memperhatikan dan menyaksikan desain grafis jalanan, dalam hal ini, hanyalah sebuah ajakan untuk meneliti rancangan tipografisnya(sebagai sebuah desain), adalah sebuah pertanyaan atas pemahaman tentang desain grafis itu kembali. Lalu bagaimanakah pemahaman itu? Mungkin sederhana saja, sebuah pemahaman akan psikologis, sosiologis, kultural juga komersial yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural indonesia. Tujuannya adalah proses memahami desain grafis itu kembali, bukan pengharapan akan suatu hasil akhir yang final. Jadi, lupakanlah tentang pencarian dan pembentukan identitas desain grafis indonesia, mulailah dari akar, desain grafis adalah perkara menggali visual, maka saksikanlah visual yang berada terdekat dengan kita karena sebenarnya itulah yang telah membentuk kepribadian dalam kultur visual kita sehari-hari, sebaik maupun seburuk apa pun itu dalam penilaian kita masing-masing.


 

Pengaruh 7 aliran desain 27 March, 2008

Filed under: 7 aliran desain — fabolousse7entd1 @ 12:33 pm

Pengaruh aliran Desain Constructivism

Constructivism adalah sebuah konstruksi yang mengatur pada sistem sosial, yang ditandai oleh penggunaan metode industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan modern melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris dan juga merupakan gabungan dari kata dan gambar sebagai pengalaman visual yang terjadi secara serentak. Fotogram, foto-montase-superimposisi (saling bertumpuk), focus yang berlainan, tipografi konkrit.

Modern design di awal abad ke 20 hampir serupa dengan Seni Murni pada jaman itu, yaitu merupakan reaksi atas dekadensi dari tipografi dan design di akhir abad ke 19. Penanda utama era Modern Design ialah typeface San Serif.

Di tahun 1920 Seni Konstruktivisme dari Uni soviet, menampilkan “produksi yang lebih intelektual” di bidang yang berbeda. Gerakan ini memandang seni individual sebagai hal yang tidak berguna, jadi mereka mulai menciptakan dan mengkreasikan objek yang memiliki nilai guna, seperti : gedung, teater, poster, tekstil, perabotan, logo, menu, dll.

Asas modern tipografi dicetuskan oleh Jan Tschihold lewat bukunya “New Typography”. Tschihold, dan tipografer Bahaus lainnya seperti Herbert Bayer, Lazlo Moholy Nagy dan El Lissitzky adalah “bapak- bapak” dari grafis design yang kita tau saat ini. Merekalah yang mencetuskan teknik dan gaya produksi yang digunakan sepanjang abad 20. Walaupun komputer telah merubah sistem produksi selamanya, namun cara – cara yang mereka cetuskan tetap relevan sampai saat ini.

Tahun – tahun berikutnya, desain grafis dengan style modern mulai diterima dan digunakan secara luas. Lonjakan ekonomi Amerika setelah perang dunia 2 menciptakan kebutuhan tinggi akan desain grafis, terutama di bidang periklanan dan packaging. Pindahnya sekolah desain bahaus ke chicago di tahun 1937 telah membawa “Produksi Massa” yang minimalis ke Amerika, dengan segera gaya arsitektur dan desain modern merambah di Amerika. Nama yang terkenal sepanjang pertengahan abad ke 20 ialah Adrian Frutiger yang mendesain huruf Univers dan frutiger serta Paul Rand yang memegang prinsip Bahaus serta menerapkannya pada desain desain periklanan serta logo yang populer, telah membawa pendekatan Amerika yang unik terhadap gaya minimalis eropa, Yang kemudian karyanya ini lebih dikenal sebagai corporate identity. Satu lagi ialah Josef Muller Brockman yang banyak mendesain poster yang hebat yang menciri khaskan tahun 1950-60an.

Reaksi terhadap desain grafis modern terbilang lambat tapi pasti. Keaslian tipografi era postmodern dapat dirunut ulang sejalan dengan gerakan humanisme di tahun 1950an. Hermann Zaph yang mendesai huruf Optima dan Palatino, mengaburkan garis batas antara serif dan san serif, dengan memunculkan kembali garis garis organis dalam tipografi. Apa yang mereka kerjakan ini pada akhirnya lebih banyak mendukung modernisme dibandingkan apa yang merek lakukan sebagai pemberontakan.

Titik penting era modern salah satunya ialah manifesto pertama di tahun 1964 yang telah membawa perubahan bentuk desain ke arah yang lebih radikal serta mengecam karya – karya yang nilai idenya rendah. Ini berpengaruh banyak pada para desainer grafisdi jaman berikutnya serta memberi kontribusi yang besar dalam kemunculan penerbitan seperti émigré Magazine.

Saul Bass mendesain banyak gambar bergerak yang memunculkan banyak fitur dan inovasi baru dalam bidang produksi desain grafis. Milton Glaser menciptakan kampanye lewat posternya “ I Love New York” yang masih sangat terkenal hingga saat ini. Glaser mengambil gaya kunci dari budaya POP di tahun 1960 dan 1970an.

David Carson memunculkan perlawanan terhadap keterbatasan dalam desain era modern, desain – desainnya dalam majalah RayGun secara sengaja dibuat tidak legible, memunculkan desain tipografi yang lebih ditekankan secara visual dibandingkan unsur kesusastraannya.

Pengaruh Arsitektur pada Constructivism

KONSEP RANCANGAN GEDUNG MESINIAGA

Penafsiran atas marka-lingkungan dari pencakar langit milik perusahaan besar yang mencengangkan ini, menjelajahi arah baru dari tipe bangunan yang biasanya tidak bersahabat. Pihak arsitek menjuluki tipe baru ini “bangunan tinggi beriklim-bio” dan memberinya pengendalian iklim serta penghematan energi yang peka. Yang patut dicatat adalah adanya dua spiral “taman angkasa” yang berputar ke atas sambil memberi bayangan dan kontras visual terhadap permukaan baja dan alumunium dari gedungnya. Rangka beton pra tekan pada gedung itu selanjutnya ditingkahi oleh dua tipe penangkis sinar matahari serta tirai baja dan kaca yang membuat citra High Tech yang organik, apalagi setelah dilengkapi dengan mahkota logam dan umpak pada bagian landasan bangunannya. Menara Mesiniaga merupakan sebuah penelitian arsiteknya atas prinsip-prinsip iklim-bio bagi perancangan gedung tinggi di daerah beriklim tropis. Menara Mesiniaga memiliki langgam arsitektur campuran dari langgam kolonial, Cina, Eropa dan Malaysia.

Gedung Mesiniaga merupakan buah penelitian arsiteknya atas prinsip-prinsip iklim-bio bagi perancangan gedung tinggi di daerah beriklim tropis. Yang ditampilkan adalah suatu organisasi spasial memanjang yang diisi dengan hirarki tertentu. Bangunan tersebut memiliki tiga bagian struktur yaitu : umpak berselimut unsur hijau yang terangkat, badan yang bernuansa spiral dengan balkon untuk teras taman dan tirai yang memberi bayangan, dan bagian puncak tempat fasilitas rekreasi berupa kolam renang serta teras beratap. Struktur beton pratekan dan rangka baja

bangunannya diperlihatkan seluruhnya dan penyejukannya dilakukan melalui pengudaraan alami dan buatan.

Sejalan dengan penjelasan diatas pembahasan selanjutnya berusaha untuk mengetahui sejauh mana pengertian dekonstruksi yang tanpa disadari oleh perancangan terdapat pada bangunan tersebut. Pembacaan dekonstruksi Gedung Mesiniaga karya Kenneth Yeang dalam pembahasan ini digunakan dengan menerapkan beberapa asas-asas ‘dekonstruksi’ yang digunakan seperti apa yang telah dilakukan oleh Benedikt dalam meninjau Museum Kimbell.

Pengaruh Art Deco di Indonesia

Pengaruh Art Deco di Indonesia dibawa oleh arsitek-arsitek Belanda, salah satu diantara mereka adalah C.P. Wolff Schoemaker dan A.F. Aalbers. Hotel Preanger Bandung rancangan Schoemaker merupakan arsitektur berlanggam Art Deco dengan ciri khasnya elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Selanjutnya perkembangan arsitektur Art Deco di Indonesia tampil lebih sederhana, mereka lebih mengutamakan pola garis-garis lengkung dan bentuk silinder, contoh konkret dari konsep ini adalah Vila Isola Bandung (sekarang gedung IKIP), juga rancangan Schoemaker. Kesederhanaan bentuk belumlah mewakili semua konsep arsitektur Art Deco ini karena kedinamisan ruang interior dapat dilihat dalam lay out bangunannya.

Arsitektur memang menggambarkan kehidupan jaman itu. Pengaruh aliran De Stijl dari Belanda yang menyuguhkan konsep arsitektural “kembali ke bentuk yang sederhana” dan pengkomposisian bentuk-bentuk sederhana menghasilkan pencahayaan dan bayangan yang menarik Aliran ini pula yang banyak mempengaruhi penganut arsitektur Art Deco di Indonesia

Perkembangan Art Deco akhir di Indonesia mengacu pada kedinamisan dan bentuk plastis yang kelenturan fasadenya merupakan pengejawantahan dari kemoderenan teknologi arsitektural. Contoh fasade yang dinamis salah satunya adalah fasade hotel Savoy Homann Bandung yang dirancang oleh A.F. Aalbers.

Lengkungan yang ditampilkan itu merupakan ekspresi gerak, teknologi modern dan rasa optimisme. Orang-orang sering menjuluki lengkungan itu dengan “Ocean Liner Style” hal ini mengacu pada bentuk kapal pesiar yang pada saat itu merupakan karya manusia yang patut dibanggakan, jadi bentukan kapal, bentuk lengkung dijadikan sebagai ekspresi kemoderenan.

Di Indonesia tentunya banyak bangunan berlanggam Art Deco yang masih harus dicari dan diteliti. Arsitektur ini merupakan salah kekayaan Arsitektur Indonesia.

Pengaruh Art and Craft di Indonesia

Pelopor Art and Craft movement adalah John Ruskin dan William Moris. Aliran ini member kesan kembali ke periode gothic, rococo dan renaisans.

Mementingkan Hand made,tanpa mesin sehingga jumlah terbatas.

Di Indonesia sendiri,terdapat banyak hasil karya yang mendapat pengaruh dari art and craft movement ini. Contohnya gerabah, ukiran patung atau pahatan, kerajinan tangan, anyaman seperti tikar ataupun anyaman tas.

Di zaman modern ini hand made tetap digemari karena memiliki ciri khas tersendiri. Di Indonesia khususnya kita dapat melihat hasil karya tersebut di kotakota pengerajin seperti Yogyakarta atupun gerabah – gerabah di Bali. Ataupun hasil – hasil karya tradisional di kotakota lainnya, seperti Solo,dll.

Pengaruh Futurism Dalam Desain

Futurisme adalah bagaimana menangkap unsur gerak dan kecepatan ke dalam lukisan dengan memanfaatkan prinsip aneka tampak.
Futurisme merupakan aliran seni yang mendukung perkembangan tipografi sebagai unsur ekspresi dalam design. Sehingga banyak penyair futurisme yang memanfaatkan tipografi sebagai bagian dari ungkapan perasaannya dalam berpuisi.
Integrasi (penggabungan) cubism dan gerak. Elemen mesin dan kinematik (berhubungan dengan gerak) sebagai elemen desain. Perubahan waktu dalam bentuk visual menyerupai fotografi strobo. Desainer/seniman: Duchamp, Boccioni.
Desainer: Picasso dan Braque Futurism Integrasi (penggabungan) cubism dan gerak. Elemen mesin dan kinematik (berhubungan dengan gerak) sebagai elemen desain.
Futurisme adalah sebuah gerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama dalam abad ke-20 yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas. Bermula dari konsep dalam pergerakan sastra, kemudian merasuk ke dalam bidang kesenian seperti: seni lukis, seni patung, seni musik, desain dan arsitektur.
Futurisme ini muncul dari situasi yang ditimbulkan akibat Perang Dunia I, dengan tujuan meninggalkan kenangan pahit, nostalgia, pesimistis, kemudian melepaskan materi-materi, elemen-elemen, dan nilai-nilai lama.
Nilai-nilai dari kaum Futuris, dimaksudkan untuk mengiringi dan mengimbangi pergeseran kebudayaan, kekuatan dinamis pasar yang luas, era permesinan, dan komunikasi global yang menurut argumentasi mereka tengah merubah alam realitas dari kebudayaan dunia. Maka khayalan-khayalan kaum Futuris memakai pola-pola geometris untuk mewakili arah gerak dan makna dari pergerakan itu sendiri.
Para seniman dan desainer Futurisme biasanya memanfaatkan hari-hari petang untuk berkumpul, menuliskan manifesto, puisi dan musik. Sifat agresif dan perilaku yang individualis dari kaum Futuris ini lambat laun dimanfaatkan untuk menyebarkan paham Fasisme. Salah seorang Futuris mempublikasikannya dalam surat kabar Perancis, “le Figaro” bertanggal 20 Pebruari 1909, dengan membuat pencampuran atau perpaduan yang tidak mudah di dalam memenuhi kepentingan nasionalisme Italia, kemiliteran dan kepercayaan baru terhadap mesin yang selanjutnya dijelmakan dalam produk mobil dan pesawat terbang. Sebelum Perang Dunia ke II, pergerakan para Futuris Italia yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya kendala-kendala desain dalam kehidupan sehari-hari, melalui penyerapan dan penggambaran kualitas mekanisasi dan kecepatan, seperti yang telah dibahas oleh Banham dalam bukunya: “Theory and Design in The First Machine Age”. Era ini telah mengispirasikan pelukis Futuris, penyair dan arsitek, diantaranya: Filippo Tommaso Marinetti, Giacomo Balla, Gino Severini, Fornunato Depero, Carra, dan Antonio Sant’Elia untuk menciptakan sebuah karya yang mencerminkan dunia mereka. Itu semua merupakan semangat baru yang mereka junjung tinggi dalam sebuah kelompok yang membawanya kepada politik Fasis, ketika ketergantungan akan keterlibatan emosi dengan gaya hidup kemodernan dan kebaruan di lingkungan masyarakat. Falsafah yang dipakai oleh kaum Futuris hampir sebagian besar diambil dari latar belakang sejarah kemunculan Modernisme. Sebab kita mengetahui, bahwa Futurisme ini merupakan gerakan awal lahirnya Modernisme. Di samping itu, dengan terjadinya Revolusi Industri berpengaruh pula pada Futurisme ini.
The Machine Aesthetics atau estetika mesin muncul mempengaruhi ciri-ciri penyusunan tipografi baik pada poster, sampul buku, dan aneka bentuk grafis lain.Aliran seni futurism ini banyak tema dari poster-poster atau sampul cover suatu buku, banyak mengadopsi aliran seni ini.

Pengaruh Art Nouveau

Adalah aliran seni yang memiliki gaya dekoratif tumbuhan (flora) yang meliuk-liuk. Art Nouveau memiliki ciri khas yaitu terdapat dekoratif/ornamen meliuk-liuk yang terpisah dari objek utamanya (objek utama pada umumnya adalah perempuan yang digambarkan dengan paras cantik dan dengan tubuh yang indah). Dekoratif lain yang terdapat pada Art Nouveau pada umumnya terletak pada rambut yang dibuat meliuk-liuk. Aliran ini muncul di Eropa dan Amerika, mulai tahun 1819 hingga menjelang perang dunia pertama (1914). Aliran ini juga mendapat pengaruh dari seni Jepang yang sudah ada sejak tahun (1760-1849 AD.) yaitu lukisan yang berjudul The Wave karya dari Katsushika Hokusai.

Pengaruh-pengaruh Art Nouveau pada seni dan desain

Pengaruh pada seni rupa yaitu patung dan lukisan.

Pada era saat ini jarang terlihat aliran Art Nouveau mempengaruhi seni rupa. Seni rupa yang ada pada saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh aliran mannerism, ekspresionism, abstrak, dan realism. Art Nouveau pada awalnya lebih berkembang untuk bidang desain dibanding bidang seni rupa. Sehingga pada era-era setelahnya Art Nouveau banyak berkembang di bidang desain.

Pengaruh pada desain interior dan eksterior

Pada era saat ini jarang terlihat ada hasil desain arsitektur yang terlihat menggunakan aliran Art Nouveau. Akan tetapi desain arsitektur yang menngunakan aliran art nouveau biasanya memiliki motif tumbuhan yang meliuk-liuk pada pagar rumah, dan terdapat bentuk wajah yang disertai dengan motif flora yang meliuk-liuk mengelilingi wajah tersebut (biasanya terletak di dinding atau di pagar). Bisa juga berbentuk motif tumbuhan meliuk-liuk yang hampir memenuhi seluruh bangunan. Contoh: Gaudí’s Sagrada Familia, Entrance to Gaudí’s Templo Expiatorio de la Sagrada Família, Detail of Art Nouveau Decoration Majolikahaus, Vienna, Hill House Interior.

Pengaruh pada perlengkapan rumah Pada dasarnya di Indonesia gaya Art Nouveau ini sudah lama bergeser akan tetapi masih dapat kita temukan. Dalam perlengkapan rumah umumnya dipakai untuk motif vase bunga. Contoh: Tiffany Vase. Pengaruh pada hasil cetakanUntuk hasil cetakan pada saat ini masih digunakan untuk:

- kartu undangan pernikahan

- poster atau brosur (umumnya terdapat pada pemasaran makanan tradisional)

- kartu undangan pemasaran perumahan dan interiornya- poster dan undangan musik (tetapi jarang yang masih murni art nouveau, biasanya sudah digabungkan dengan gaya lain).

Pengaruh Aliran Desain De Stijl pada Desain Mebel Eropa

Perkembangan desain mebel Skandinavia mendapat pengaruh dari gerakan desain di Eropa, seperti Art & Craft Movement, De Stijl, Vienna School, Deutsche Werkbund dan Bauhaus yang kemudian memberi pengaruh secara signifikan terhadap perkembangan desain modern Denmark dan Skandinavia secara umun. Pengaruh luar, terutama dari Bauhaus, diterima dengan kritis oleh masyarakat Skandinavia dengan cara dipahami secara lebih bersungguh-sungguh untuk kemudian digabung dengan karakteristik desain lokal. Adaptasi dan inovasi ini menghasilkan bentuk baru yang kemudian disebut Desain Skandinavia Modern. Desain Skandinavia modern dengan kata lain adalah pendekatan masyarakat Skandinavia terhadap konsep Modernisme yang kemudian memberi sumbangan yang besar pada khazanah desain mebel kontemporer. Kajian penelitian ini menghasilkan beberapa simpulan tentang pengembangan desain mebel Skandinavia yang mengacu pada a) nilai-nilai ‘craftmanship ‘ yang dipakai ke dalam desain dan industri mebel modern; b) komitmen terhadap material alam yang dipakai secara dominan dalam desain mebel, dan c) idealisme sosial yang berlaku secara umum. Sementara dari segi pendekatan bentuk, Skandinavia cenderung menggunakan pendekatan konsep “abstraksi organik’. Abstraksi organik adalah konsep bentuk yang mengacu kepada bentuk-bentuk alam, yang juga sering disebut ” bionzorphic “. Konsep bentuk ini mendapat perhatian yang dominan di Denmark lebihlebih setelah ditemukannya teknologi bending kayu lapis yang dirintis dalam industri pesawat terbang di Amerika oleh Eero Saarinen dan Charles Eames. Di Skandinavia, desain dengan media kayu lapis bending dirintis oleh Alvar Aalto di Finlandia, Arne Jacobsen di Denmark dan Bruno Mattson di Swedia. Model pengembangan desain moden di Denmark diawali dengan dengan metode reduksionisme terhadap desain lama, inovasi terhadap material alam, dan aplikasi bentuk organik dengan material bare seperti plastik. Pengaruh desain Skandinavia secara langsung terhadap perkembangan desain Amerika dimulai dengan didirikannya Cranbrook Acedemy of Fine Art pada 1932 di Michigan yang dipimpin oleh Elie/ Saarinen dari Finlandia. Desain mebel modern Denmark yang umumnya berbahan utama kayu bending mendapat tempat di Amerika dan berpengaruh kepada dunia internasional termasuk Indonesia.

Pengamatan Bangunan De Stijl

 

Bangunan-bangunan neo-klasik yang lebih puritan bahkan masih bisa diamati pada bangunan yang sekarang menjadi kantor Polwiltabes Surabaya dan gedung PTPN XI. Penggunaan tiang-tiang klasik yang bergaya Yunani dan fasad simetris yang kaku masih nampak pada bangunan-bangunan tersebut. Sementara bangunan yang lebih baru lebih dinafasi oleh semangat “kekinian” (modernitas) yang mewabahi Belanda di medio dekade 1920-an. Beberapa bangunan, di antaranya hasil karya FJL Ghijsels dan Nedam yang sangat dipengaruhi konsep De Stijl, dengan pola garis-garis dan asimetrisitas yang memang “in” pada masa tersebut. Ghijsels merancang hotel Internatio yang terletak di pertigaan Hereenstrat dan Willemsplein (sekarang Jl. Jayengrono), tempat di mana pada 1945 Mallaby terbunuh. Sementara Nedam adalah perancang kantor Gubernur Jawa Timur di daerah Tugu Pahlawan. Karya modern lain adalah PTPN XII karya CPW Shoemaker di Jl. Jembatan Merah dan Hotel Ibis di Jl. Rajawali yang mengusung spirit art deco (dominasi pengulangan unsur dekoratif) (yang jamak di Bandung).

ARSITEKTUR NIEUW BOWEN di KAWASAN PUSAT PASAR MEDAN

Ketika melintasi koridor jalan Sutomo Medan, pada penggalan simpang jalan MT Haryono hingga jalan HM Yamin, terdapat deretan ruko yang sangat ramai dengan kegiatan komersial. Jual beli berbagai kebutuhan sehari-hari telah dimulai saat fajar belum menyingsing hingga posisi bulan telah meninggi. Hal ini disebabkan karena koridor jalan Sutomo tersebut diapit oleh beberapa generator kegiatan komersial yang penting. Di sebelah timurnya terdapat Pusat Pasar, suatu kompleks pasar tradisional terbesar dan terlengkap di Medan yang melalui suatu sky cross dihubungkan dengan Medan Mal, suatu pusat perbelanjaan modern baru yang megah. Sementara di sebelah barat–tepatnya di jalan Sambu–terdapat terminal angkutan kota.Jika saat berada di tengah hiruk pikuk dan kemacetan yang lazim terjadi pada koridor tersebut kita memperhatikan bangunan-bangunan di kiri kanan jalan, akan terlihat suatu gaya arsitektur yang tidak lazim untuk bangunan ruko masa kini. Setiap pengakhiran dari suatu deretan ruko yang rata-rata dua lantai, selalu terdapat bangunan tiga lantai yang memiliki menara. Dari pangkal koridor hingga ke ujungnya, terdapat tidak kurang sebelas bangunan yang mempunyai menara pada sudutnya. Bergerak dari ketertarikan tersebut, penulis bersama mahasiswa kelas Pemugaran Bangunan dan Lingkungan Arsitektur Universitas Sumatera Utara melakukan studi pada kawasan ini, berupa perekaman visual, wawancara dan penggalian literatur tentang sejarah kawasan. Ternyata sekitar tahun 30-an adalah Mr Pittlo, seorang burgemeester (walikota) pada masa itu, yang mempunyai gagasan untuk membangun sebuah pusat pasar yang megah. Gagasan tersebut diwujudkan oleh arsitek Belanda bernama J.H. Valk yang mengambil gabungan bentukan toko-toko dan katedral yang panjang sempit di Belanda, bergaya De Stijl dengan adaptasi pada iklim tropis. Pasar yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 1932 dan menghabiskan biaya sebesar 1.567.208 Gulden (sumber: Pemda Tingkat I Sumatera Utara, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Sumatera Utara 1945-1949 Jilid I, 1996) itu kemudian menjadi suatu generator aktivitas komersial yang signifikan di Medan pada masa itu, dan dinyatakan sebagai kawasan pusat pasar terbesar, termegah dan terbersih di Asia Tenggara. Sejak saat itu, kawasan sekitar jalan Sutomo, yang kala itu bernama Wilhelminestraat, dan jalan Sambu, yang dahulu disebut Hospitaalweg (Loderichs: 100), kemudian dikenal dengan sebutan Pusat Pasar dan berkembang menjadi kawasan komersial hingga saat ini. Ciri khas bangunan di koridor Sutomo sekitar kawasan Pusat Pasar Medan ditandai dengan penggunaan beton sebagai material utama, atap datar, fasade yang sederhana dengan garis-garis horisontal yang keras, umumnya berwarna putih, jendela-jendela geometris tanpa ornamen, dan permainan massa bangunan yang plastis yang ditingkahi oleh adanya menara. Menara-menara tersebut pada umumnya tidak fungsional, hanya merupakan bentukan massa vertikal yang mengimbangi garis-garis horizontal yang kuat pada tampak bangunan. Gaya seperti ini menjadi tren pada kawasan tersebut pada tahun 1930-an hingga 1950-an. Itu merupakan pengaruh dari gaya arsitektur modern yang disebut sebagai arsitektur Nieuwe Bouwen. Arsitektur Nieuwe Bouwen merupakan istilah gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940. Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang tren pada masa itu antara lain Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia. HP. Berlage, C. Citroen, Th. van Oyen dan CP. Wolff Schoemaker adalah beberapa di antaranya. Karya-karya arsitek tersebut disambut hangat di Indonesia pada umumnya karena menerapkan gaya arsitektur modern dengan penyesuaian terhadap iklim setempat (Handinoto, 1996:237). Gaya arsitektur Nieuwe Bouwen yang mendominasi bangunan di kawasan Pusat Pasar Medan dapat dimengerti sebagai salah satu bentuk persaingan khas daerah komersil melalui citra bangunan. Para pengusaha berusaha untuk membuat bangunan miliknya lebih atraktif dari yang lain. Yang kemudian terlihat dalam bentuk fisik adalah suatu koridor komersial yang memiliki sky line yang sangat unik, didominasi oleh permainan massa bangunan pada fasade dan aksentuasi vertikal berupa menara-menara. Bangunan-bangunan tersebut kini antara lain berfungsi sebagai kantor PD Pasar Medan, Toko Cirebon, Toko Raja Lalo, Bangunan Toko Makmur Jaya, dan sekitar selusin bangunan lain. Fenomena yang sama juga terjadi pada koridor Tunjungan Surabaya (Nasution, 1998) di mana pada suatu koridor komersial akan berkembang gaya-gaya arsitektur yang sedang tren di masa tersebut. Arsitektur Nieuwe Bouwen di koridor jalan Sutomo di kawasan Pusat Pasar Medan dapat dipandang sebagai suatu jejak fisik sejarah berupa arsitektur yang menjadi Genius Loci atau “Nasi Goreng”, di mana sebagian besar bangunan dibangun dalam kurun waktu dan langgam yang sama (Soemardi, Arsitektur dan Kesinambungan Sejarah, AMI, 1995). Walaupun selanjutnya karakter arsitektur di Koridor Sutomo kawasan Pusat Pasar Medan kemudian berkembang menjadi “arsitektur campur sari”, sisa-sisa bangunan dengan arsitektur Nieuwe Bouwen yang masih bertahan dan berdiri megah, senantiasa mencerminkan karakter yang khas dan unik, serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. Namun kurangnya perawatan dan perkembangan dominasi bilbor pada fasade di deretan bangunan dapat membuat jejak sejarah ini semakin memudar jika tidak mendapat perhatian yang semestinya dari kita semua.

Megaria Sebagai Benda Cagar Budaya

Dalam artikel “Mari Selamatkan Sejarah Panjang Megaria” sudah diperkenalkan nilai sejarah Megaria dari sudut pandang arsitektur, sejarah dunia film Indonesia, serta sedikit bahasan mengenai perannya dalam sejarah pergerakan politik di Indonesia. Artikel kali ini ingin mengangkat telaah Megaria dari sudut pandang Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, serta PerDa DKI Jakarta no 9 tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya. Tujuan utama artikel ini ingin mengajak pembaca lebih mengenal istilah-istilah yang dekat dengan benda cagar budaya, membagikan sudut pandang berbeda dalam melihat bangunan tua. Supaya bila ada diantara pembaca yang ketiban rezeki nomplok, dan berminat investasi di Megaria bisa melihatnya dari kacamata bisnis yang berbeda. Atau bila ada pembaca yang kebagian merancang bangun kompleks atau lingkungan di sekitar Megaria, bisa membantu menjaga salah satu asset bangsa ini. Lebih baik lagi kalau bisa bermanfaat untuk semua bangunan bersejarah di berbagai kota di Indonesia. Megaria sebagai bangunan cagar budaya dalam pengamatan saya telah memenuhi kelima tolok ukur yang ada, sehingga bisa dimasukkan dalam penggolongan benda cagar budaya golongan B dan lingkungannya juga bisa digolongkan dalam lingkungan cagar budaya golongan I. Lingkungan Megaria dimasukkan dalam bahasan kali ini, karena melihat betapa strategisnya posisi Megaria terhadap Tugu Proklamasi, serta kemungkinan untuk mengangkatnya menjadi segitiga parawisata bila dikaitkan dengan posisi Jl. Surabaya yang sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan asing sebagai tempat mencari barang-barang antik. Kalau ditambahkan dengan beberapa bangunan tua yang cukup menarik dari daerah di sekitar Bappenas (dan Taman Suropati) menelusuri sepanjang jalan Imam Bonjol sampai ke kompleks Universitas Indonesia maka kawasan ini amat menarik untuk dikaji dalam kaitannya sebagai kawasan bersejarah (historical district). Penulis sendiri belum meneliti terdaftar pada posisi apa Megaria dan lingkungannya di Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. Hanya menjadi satu catatan untuk bangunan Megaria adalah kekhasan gaya arsitektural De Stijl yang memungkinkan bangunan terapresiasi dari empat tampak yang senantiasa berbeda. Kekhasan bangunan Megaria sendiri adalah karena sepengetahuan penulis merupakan suatu bangunan khas De Stijl yang penggunaannya untuk umum (publicuse) bukan untuk rumah tinggal (seperti rumah sebuah kedutaan yang ada di dekat Taman Suropati), dan gaya ini sendiri kemudian kembali lagi sebagai penanda ciri bangunan sebuah bank swasta sebelum bank-bank swasta berguguran. Untuk lebih memperkuat posisi Megaria dalam sejarah bangsa, ada baiknya kalau fungsi Megaria sebagai bioskop tetap dipertahankan, mungkin dengan memberikan porsi besar kepada pemutaran film dokumenter dan film indies. Sebagai arsitek tentunya dalam benak penulis terpikir untuk memindahkan poster-poster film yang menutupi tampak depan Megaria agar memberi kesempatan pada ekspose bentuk asli arsitekturnya.

Pengaruh De Stijl pada Gaya Pencak SilatPENDAHULUAN

Maen Po atau Pencak Silat dapat digolongkan kedalam salah satu cabang seni perkelahian atau seni bela diri, sama seperti judo, Jiu – Jitsu dan karate dari Jepang, Tae kwon do dari Korea, Kunthau atau Kung Fu dari Cina dan lain sebagainya.Didalam pancak silat kita mengenal beberapa aliran, umpamanya ; aliran – aliran Minangkabau, Cimande, Sera, Sabandar, Pa Macan dan sebagainya.Walaupun semuanya mungkin berasal dari satu sumber, tetapi karena perkembangan – perkembangan selanjutnya, jika dilihat dari sudut gerakannya, masing – masing mempunyai sifat dan corak tersendiri. Sungguhpun demikian, pada pokoknya semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu : Dapat mengalahkan lawan dalam gelanggang perkelahian sehingga bisa keluar sebagai pemenang, setidak – tidaknya merupakan usaha pembelaan diri terhadap serangan lawan.Dilihat dari sudut tujuan mempergunakannya, kita mengenal dua macam silat, yaitu yang bersifat khusus tari perkelahian ( gevechtsdans ) yang dilakukan sesuai dengan irama kendang pencak, yang lazim disebut kembang ( bunga ) nya dan yang bersifat khusus perkelahiannya ( pembelaandiri ) , yang lazim disebut Maen Po atau buah ( = isi ) nya.

APAKAH MAEN PO CIKALONG ITU ?

Adapun yang disebut Maen Po Cikalong itu ialah suatu aliran Pencak Silat yang berasal dari Cikalong kulon, suatu distrik didaerah Kabupaten Cianjur di Tatar Sunda, yang diciptakan diakhir abad XIX oleh Raden Haji Ibrahim Djajaperbata, putranya Aom Raja Cikalong, setelah beliau atas asuhan suami kakanya (Raden Ateng Alimudin, putra Tubangus kasim, Dalem Aria Djatinegara ), berguru kepada beberapa pendekar pencak silat yang dikala itu sangat termashur namanya, diantaranya kepada Bang Mahrup, Bang Kari dan Bang Madi, keduanya yang disebut terakhir berasal dari daerah Pagarruyung ( Sumatera ).Maka atas dasar bermacam – macam silat yang telah beliau pelajari itu, dan setelah berkhalwat bertahun – tahun lamanya, oleh beliau Diciptakanlah Maen Po Cikalong, sebagaimana yang dapat kita ketahui sekarang ini.Salah sebuah gua tempat beliau berkhalwat sampai sekarang masih dapat kita saksikan, yaitu yang terletak dikampung Lebak Jelebud, dekat sebuah “Situ” ( danau buatan ), dipinggir sungai Cikundul Leutik.Adapun tata gerak Maen Po Cikalong ini merupakan kombinasi dari unsure hantaman yang bersifat kasar dan membahayakan dan unsur rasa yang bersifat sangat halus dan tidak membahayakan.

Adapun gaya “STIJL” didalam Maen Po itu ada tiga macam :

Pertama : Gaya ungkit. Raden Muhidin, seorang tokoh utama Maen Po Cikalong yang saat saya menulis uraian ini masih hidup dan bertempat tinggal di kampong Pasar Baru, Cianjur, murid Raden Bustomi Bratadilaga Putera Raden Haji Ibrahim Djajaperbata,–yang dalam Paguron “ CIKUNDUL “ yang saya pimpin menjadi Guru Besar dan Pangaping (Pembimbing )-nya –, menamakan gaya ini sebagai gaya “ Dongkrak “. Gaya ini merupakan gaya agak serong ke atas , yang biasa digunakan dalam mendorong atau melawan desakan tenaga lawan, kalau kita tidak menyalurkan tenaga lawan tersebut. Ingat : “ Wet van de hefboom “ didalam Ilmu Alam ! Kedua : Gaya pilin ( Gaya spiral ). Gaya ini biasanya digunakan kalau kita mengadakan pukulan dengan tangan, berupa “Jurus“, “ Serong “ dan sebagainya.Selain dari pada itu gaya ini digunakan juga dalam hal melakukan gerakan dengan ujung tangan. (Melakukan “ Usik tungtung “ ! ). Ketiga : Gaya lonjong ( Gaya parabola ). Gaya ini biasanya digunakan kalau kita melakukan gerakan “ Tomplok “.

SIKAP SEDIA

Perlu diterangkan , bahwa sifat Maen Po itu harus all round , harus sanggup atau mampu menghadapi segala macam kaidah atau tehnik bela diri yang ada pada setiap lawan yang mungkin akan dihadapi. Oleh karena demikian kita harus selalu tenang, serta siap sedia menghadapi setiap kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh fihak lawan. Kita harus selalu mempunyai kesiagaan mental dan physic. Janganlah ragu-ragu atau bertindak setengah-setengah !Sikap setengah-setengah atau kepalang tanggung, dapat merugikan kita sendiri. Kalau berhadapan dengan lawan, harus kita perhatikan : Sikap , pandangan, tangan dan kaki lawan serta jarak antara kita dengan lawan. Oleh karena demikian kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :Pertama : Usahakan sedapat mungkin, terutama didalam permulaan beradu hadapan dengan lawan, supaya kita menghadap lurus kepada lawan, sedangkan lawan terhadap kita tidaklah demikian halnya. Kedua : Jika lawan berada dalam sikap pasangan “Jurus” , harus kita hadapi dengan lawan “Suliwa” , demikian juga sebaliknya, kalau lawan berada didalam pasangan “Suliwa”, harus kita hadapi dengan sikap pasangan”Jurus”. Ketiga : Pandangan mata ditunjukan lurus ke muka, supaya dapat memperhatikan gerak-gerik lawan. Catatan : Didalam permainan gerak dengan menggunakan rasa walaupun mata ditutup atau dipejamkan, tapi dengan syarat badan atau tangan kita bersentuhan dengan lawan, semua gerak-gerik fihak lawan oleh kita akan terasa, shingga dengan demikian akan ketahuan ke mana dan bagaimana kemungkinan gerak lawan tersebut. Keempat : Tangan secara sedang harus selalu siap berada dimuka badan, jangan sekali-kali mengangkat ke atas atau menggelantung ke bawah, melintang di muka badan atau terbuka ke luar. Sikut harus agak rapat ke badan. ( “Ulah buka kelek” ).Kelima : Badan tegak, pundak agak dibungkukkan ( dalamBahasa Sunda : “ Dibongkok meongkeun “ ) , dan agak lebih rendah dari badan lawan. Garis khayal yang membentang tegak lurus dari tengah-tengah kepala terus ke bawah melalui pantat ke tanah akan merupakan sumbu (“as “) dari segala gerak-gerik anggota tubuh kita, dan ujung bawah dari garis ini akan merupakan titik berat badan kita. Berat badan dibagi rata diantara kedua belah kaki. ( “ Gelijkelijk onder de beide voeten verdeeld “ ) Keenam : Kaki harus sedang, yang sebelah agak seorang ke muka dan yang sebelah lainnya disamping belakang, kedua belah lutut agak dibengkokkan, jarak antara kedua belah tumit lebih kurang satu kaki. Melebarnya ( Sunda : “ Ngajegang “ –nya ) kaki keluar jangan melewati batas titik khayal dari pada garis tegak lurus yang ditarik dari pada kedua ujung pundak ke bawah. Kedua sisi kaki sebelah dalam merupakan sudut 900 . Sikap kedua kaki ini dinamakan kuda-kuda. Posisi diantara kedua belah kaki harus selalu dipelihara. Kuda-kuda ini harus kuat dan enak dirasakannya serta tidak melelahkan. Kedua telapak kaki harus selalu rapat di tanah kecuali dalam keadaan –keadaan tertentu, umpamanya kalau sedang melakukan gerak hantaman dengan kaki ( “de moorddadige knie-stoot “ ) dan sebagainya. Akan tetapi harus lincah, jangan terpaku. Sehubungan dengan sikap kuda-kuda ini, oleh kita dapat diketahui, bahwa seluruh tubuh dan bagian tubuh kita yang berada di dalam keadaan sikap kuda-kuda, akan merupakan semacam pyramida yang titik puncaknya berada di atas kepala dengan suatu bidang yang di batasi oleh garis-garis khayalan yang di bentuk oleh kedua belah kaki sebagai alas dasar atau “Gronndvlak”-nya, sehingga kita dapat mengetahui , hubungan-hubungan apakah yang ada, kalau dari ujung dengkul di tarik garis lurus tegak pada alas dasar yang dibentuk oleh telapak kaki. Oleh karena demikian kita dapat mengira-ngira , dimana adanya titik-titik atau garis-garis keseimbangan dari pada kuda-kuda itu, atau dimana adanya titik berat badan dalam kuda-kuda tersebut, dan bidang-bidang manakah yang merupakan daya dukung ( “ Braagvlak “ ) dari pada tiap-tiap kaki itu dan juga dimana adanya bidang keseimbangan ( “ Bvenwichtsvlak “ ) yang dikuasai oleh kaki-kaki tersebut. Jika hal-hal tersebut di atas diperhatikan, dengan mudah dapat dimengerti, bahwa kedua belah kaki yang sebelah menyebelah ke samping memang kuat menahan desakan dari samping, akan tetapi lemah kalau menghadapi desakan dari muka atau belakang. Demikian pula, kaki yang sebelah ada di muka dan yang sebelah ada di belakang akan kuat menahan desakan dari muka, tetapi akan lemah kalau menghadapi desakan dari samping. Dari uraian ini jelaslah, bahwa arah garis tengah ( bisentris ) yang membelah sudut yang dibentuk oleh kedua belah kaki akan merupakan arah hampa tenaga ( “ richting van dakrachtsleemte “ ). Oleh karena itu menempatkan kaki harus sedang, sehingga kita dengan mudah serta lincah dapat bergerak ke setiap urusan dan dengan mudah serta kuat pula dapat menahan tiap-tiap desakan dan segala arah atau jurusan. Ketujuh : Jarak antara kita dengan lawan harus sedang, kurang lebih satu hasta, jangan terlalu jauh dan jangan terlalu rapat.Ruang gerak kita harus cukup leluasa dan efektif.

Pengaruh aliran Bauhaus dalam kehidupan

Bauhaus, adalah sebuah aliran (gaya) arsitektur yang didirikan oleh Walter Gropius pada tahun 1919. Pelopor International Style dan mengenalkan konsep “form follows function”, yaitu bentuk bangunan mengikuti fungsi yang ada pada bangunan tersebut. Bauhaus memiliki pengaruh besar terhadap arsitektur dunia.Mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis, sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal. Lihatlah hutan gedung pencakar langit di Jakarta, atau kota metropolis lainnya. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah citra bentuk simetris dengan gaya industrial. Nyaris tanpa aksentuasi sehingga siapapun yang berharap menemukan ornamentasi bakal kecewa. Citra bentuk arsitektural ini sejalan dengan diktum Ludwig Mies Van Der Rohe dengan Less is More-nya (kurang adalah lebih) seolah menggilas ornamentasi yang dalam konsep Mies diubah menjadi bentuk abstrak dan geometric modern. Kelak ciri inilah yang menjadi gaya internasional (international style) arsitektur modern. Mies adalah tokoh Bauhaus, sebuah sekolah seni berpengaruh di Jerman. Prinsip-prinsipnya menegaskan semangat kaum Bauhaus yang bercita-cita membuat perubahan baru dalam seni, desain dan arsitektur dengan menolak eklektisisme, sebuah era dimana seni intim dengan citra artistik lokal seperti gaya Victorian dan sebagainya. Selain Mies, juga ada Walter Gropius sebagai nama penting dan berpengaruh di Bauhaus. Tujuan Bauhaus adalah menyatukan semua kerja kreatif, menghimpun semua disiplin seni praktis (patung, lukis, kerajinan dan kriya) sebagai komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu arsitektur. Lahir dari rahim pasca perang dunia I Ditengah kecamuk perang dunia pertama, saat pelbagai kepentingan berubah wujud menjadi tank, senapan, granat dan kemudian tangisan dan darah menjadi hasilnya, dengan mantap Walter Grapius, seorang Jerman, tergugah untuk ikut memperbaiki ekonomi negaranya yang luluh lantak akibat perang. Teknologi menjadi kata kunci penyelamatan. Maka dimulailah proyek besar sebuah integrasi antara teknologi industri dan seni. Gropius berkeinginan untuk membuat lembaga yang berfungsi sebagai “consulting art center for industry and the trades ” (Bauhaus 1919-1928 p.12). Lewat Bauhaus, Gropius, sang pendiri Bauhaus, merasa perlu untuk mengintegrasikan antara seni lukis, patung, kriya dan disain sebagai elemen yang tujuan akhirnya adalah sebuah lanskap arsitektur yang utuh. Perhatikan arti Bauhaus, dari ‘Bauen’ yang bararti to build dan ‘hous’ yang berarti the house. Selain itu seni panggung, teater juga menjadi bagian dari proyek edukasi Bauhaus yang resmi didirikan tahun 1919 di Weimar. Prinsip-prinsip Bauhaus : Walter dan Mies Bauhaus adalah institusi yang menarik. Tidak hanya merupakan lembaga edukasi, namun sekaligus Bauhaus mempunyai prinsip yang ‘idelogis’ sifatnya. Misalnya, bahwa seni harus bertemu dengan keinginan masyarakat, tiadanya batasan antara seni murni (fine arts) dan seni terapan (applied arts). Secara eksplisit Bauhaus mengutarakan prinsip idelogisnya antara lain : menyelamatkan seni dari isolasi terhadap dirinya dan kemudian menemukan kembali dirinya (Whitford, p.11). Mengembangkan keahlian seni dan kriya (crafts) individual dan bekerjasama dengan mengkombinasikan semua keahlian, Kedua, membebaskan dan menaikkan status, kriya (crafts), kursi, lampu, teapot dan lainnya kepada level yang sama dengan lukisan, patung. Dan ketiga, mengatur kontak kepada pimpinan industri dan kriya (crafts) demi keuntungan mandiri dari ketergantungan dukungan pemerintah dengan cara menjual disain ke industri. Menyebut Bauhaus, seperti sulit menyampingkan dua nama : Walter Gropius dan Ludwig Mies Van Der Rohe. Kedua orang ini cukup aktif meletakkan dasar-dasar penting prinsip-prinsip di Bauhaus dalam periode kepemimpinan Bauhaus yang berbeda . Misalnya, Walter Gropius (1883-1969), seorang yang pernah mandapat latihan profesional di Munich, mengembara di Spanyol dan di Italia ia bergabung dangan Studio Behrens. Jangkauan pemikiran Walter mencakup hampir semua benda fungsional dan ia ingin memajukan desain produk dengan jalan mengawinkan seni rupa dengan industri. Dibawah pimpinan Gropius, Bauhaus menjadi pusat pendidikan desain terpenting. Gropius membuat disain inovatif, yang membawa material dan metode konstruksi dari teknologi modern. Ia menggunakan teknologi sebagai basis juga menstransformasikan bangunan menjadi presisi dengan mengikuti kalkulasi matematis. Kemudian Ludwig Mies Van Der Rohe (1886-1769) : baginya keindahan nampak dalam kesederhanaan. Pandangan estetisnya ini sering dikaitkan dengan estetika fungsionalis yang populer pada abad 20. Ia membuktikan pada rancangan bangunannya yaitu Seagram Building di New York, gedung bertingkat 38 yang memadukan logam dan kaca. Ia untuk beberapa waktu menggantikan kepemimpinan Walter Gropius d Bauhaus. Sekolah seni Bauhaus Bauhus pada awal berdirinya merupakan kombinasi dari Weimar Arts and Crafts School dan Weimar Art Academy. Siswa sekolah dilatih menjadi seniman dan empu kriya (master of craftman). Baginya seniman modern harus terbiasa dengan sains dan ekonomi, dan memulai menyatukan imajinasi kreatif dengan pengetahuan pertukangan kemudian mengembangkan suasana baru dalam desain fungsional (Bauhaus idem,p.13) Kelas seni di Bauhauas memberikan pelajaran kriya (crafts), tipografi desain industri dan komersial , patung, lukisan, dan arsitektur. Pengajarnya antara lain pelukis abstrak Paul Klee (Swiss),Wassily Kandinsky (Rusia) dan pelukis yang juga desainer, Laszlo Moholy-Nagy (Hungaria), dan lain-lainnya. Tahun 1923 adalah pameran pertama karya siswa. Salah satu karya interior yang dipamerkan adalah kantor direktur Walter dan rumah tinggal eksperimental, The Haus Am Horn, yang dibangun oleh siswa Bauhaus. Bauhaus pindah, Bauhaus ditutup Nazi Pada 1925 Bauhaus pindah dari Weimar ke Desau. Di tempat baru ini dibuat bangunan pusat Bauhaus yang diarsiteki oleh Walter Gropius. Bangunan ini memiliki arti penting dalam sejarah arsitektur modern. karena bangunan ini dirancang lebih kompleks dan utuh. Jerman ibarat medan pertarungan ideologi yang tak berkesudahan saat itu, sebuah peristiwa penting terjadi. Saat Bauhaus tengah ‘masyuk’ dengan program dan hasilnya yang gemilang, kapak ‘Nazi-Hitler’ selain aktif menebas musuh ideloginya ternyata juga menebas Bauhaus, institusi yang ironinya berjasa membangkitkan ekonomi Jerman dan justru bertempat di Jerman. Dengan ditutupnya Bauhaus pada 1933 oleh Nazi, Gropius, Mies dan pemimpin fakultas lainnya di Bauhaus melarikan diri ke Amerika dan disana, Gropius mengajar di Universitas Havard. Justru akibat pelariannya ini, pengaruh Bauhaus, teori disain, arsitektur dan metode edukasi seninya seperti semakin bersemi di daratan Amerika dan kian menyebar di negara eropa lainnya.

 

Percetakan dan Jenisnya 26 March, 2008

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:55 pm

Percetakan

Percetakan adalah sebuah proses industri untuk pemproduksikan tulisan dan gambar secara massal, dengan menggunakan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Mesin cetak merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi. Mesin cetak digunakan untuk membuat banyak salinan halaman yang identik. Kini digunakan untuk mencetak buku dan surat kabar. Kini segalanya dapat dilakukan secara otomatis. Saat mesin cetak ditemukan oleh Johannes Gutenberg, ia harus meletakkan huruf bersama-sama. Tiap huruf ada di balok logam dalam sebuah bingkai. Lalu ia bisa memindahkan kertas dan tinta di atasnya, mirip seperti perangko. Huruf itu akan meninggalkan beberapa tinta di kertas itu.

Sekarang ini banyak buku dan koran dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Biasanya gambar yang akan dicetak terlebih dahulu dilukiskan ke atas pelat offset dengan bantuan printer laser kemudian pelat ini akan diolah mesin cetak menjadi pola penintaan yang akan ditimpakan ke atas kertas cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus.

Teknik percetakan umum lainnya termasuk cetak relief, sablon, rotogravure, dan percetakan berbasis digital seperti pita jarum, inkjet, dan laser.

Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas.

Sejarah

Kemungkinan besar percetakan pertama kali ditemukan untuk mempermudah menduplikasikan Injil. Jika sebelumnya ditulis tangan di ruang scriptoria, maka sejak zaman renaisansce manusia mulai berpikir untuk mempercepat proses ini melalui produksi massal.

Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan pusat kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.

Relief uang logam menimbulkan ide untuk membuat permukaan dengan tinggi bervariasi. Hal ini dikenal dengan nama cetak tinggi. Cetak Tinggi adalah sebutan untuk teknik cetak dalam seni grafis, termasuk di dalamnya teknik cukil kayu, di mana bagian plat / papan yang akan mencetak warna adalah pada permukaan aslinya; bagian yang tak berwarna adalah bagian yang dicukil.Dan biasa juga dapat disebut dengan cetak relief

Berlawanan dengan teknik ini adalah teknik cetak intaglio, seperti yang terdapat pada engraving atau etsa.

Cetak offset

Cetak offset adalah teknik cetak yang banyak digunakan, di mana image bertinta di-transfer / dioffset terlebih dahulu dari plat ke lembaran karet, lalu ke permukaan yang akan dicetak. Ketika dikombinasikan dengan proses litografi, yang berdasarkan pada sifat air dan minyak yang tidak bercampur, maka teknik offset menggunakan sebuah pemuat citra yang rata (planographic) di mana citra yang akan dicetak mengambil tinta dari penggulung tinta (ink rollers), sementara area yang yang tidak dicetak menarik air, menyebabkan area yang tak dicetak bebas tinta.

Sablon / Cetak Saring

Sablon / Cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan serat tertentu. Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak.

Proses eksekusinya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna.

Rotogravure

Rotogravure adalah salah satu teknologi dalam dunia percetakan. Rotogravure sendiri dalam dunia grafika berarti cetak dalam. Atau dalam bahasa awam adalah teknologi cetak yang biasa digunakan untuk mencetak media yang terbuat dari bahan yang fleksibel (misalnya; berbagai jenis plastik, alumunium dan kertas serta PVC). Bahan yang akan dicetak adalah dalam bentuk rol atau gulungan. Hasil dari cetakan rotogravure tersebut tidak langsung dapat dinikmati oleh konsumen, tetapi harus melalui beberapa tahap, sbb (misalnya pembuatan kemasan makanan ringan anak-anak);

  1. Plastik hasil cetakan dilaminasi terlebih dahulu dengan menempatkan rol yang telah dicetak ke mesin laminasi, kemudian plastik rol tersebut dilapisi dengan bahan perekat dan ditempelkan ke media lain berupa “metalize” (campuran antara bahan plastik yang dilapisi dengan alumunium).
  2. Hasil rol yang telah dilaminasi kemudian dikeringkan (di “aging”) terlebih dahulu.
  3. Rol yang telah dikeringkan kemudian dibawa ke mesin “slitter”, untuk memotong gulungan panjang dan lebar menjadi ukuran tertentu sesuai dengan pesanan dari produsen makanan ringan tersebut.

Proses tersebut diatas hanya gambaran singkat saja, dibalik itu masih banyak sekali teknologi yang digunakan dalam dunia rotogravure untuk menghasilkan suatu kemasan. Mulai dari desain, pembuatan tabung silinder dari besi, pelapisan tembaga, pembuatan gambar diatas silinder besi yang telah dilapis tembaga, pelapisan chrome, pencetakan, inspeksi, laminasi, slitting (pemotongan), pembuatan kantong (kalau memang ordernya terkirim bentuk kantong) serta masih banyak lagi proses didalamnya.

Karena dalam prosesnya merubah bentuk bahan dasar menjadi bahan jadi, biasanya proses ini dinamakan proses “converting” atau dengan kata lain adalah “converting industry”

Adapun beberapa contoh sehari-hari dari hasil converting adalah, sebagai berikut; 1. Kemasan mi instan 2. Kemasan obat-obatan (selain kapsulnya dan syrup serta tetes mata) 3. Kemasan makanan ringan 4. Kemasan label botol air mineral dan air isotonik (dinamakan shrink label) 5. Tutup gelas minuman air mineral dll (lid cup) 6. Dan sejenisnya.

Digital Printing

Cetak digital adalah semua teknologi reproduksi yang menerima data elektronik dan menggunakan titik (dot) untuk replikasi. Semua mesin cetak yang memanfaatkan komputer sebagai sumber data dan proses cetak memanfaat prinsip titik; dimana gambar atau image pada material (kertas, plastik, tekstil dll) tersusun dari kumpulan titik-titik.

Definisi printer,copier,press
Berdasarkan mesin cetak aplikasi yang ada, maka cetak digital secara garis besar digolongkan 3;
(1) printer – seperti; printer untuk Personal Computer (PC)
(2) copier – seperti; mesin fotokopi yang dilengkapi dengan scanner
(3) press – seperti; mesin cetak offset.

Printer adalah semua teknologi,mesin cetak yang membuat gambar atau image pada kertas yang diambil dari data/file komputer; menghasilkan turunan cetak pertama atau cetak asli dimana setiap cetakan bisa unik atau berubah. Ciri ini memberi kemampuan personalisasi bahan cetakan. Semua dokumen bisa menjadi individual. Teknologi tinta yang dipakai bisa inkjet, wax-transfer dan toner.

Copier atau mesin fotokopi, dicirikan dengan alat scanner; menghasilkan cetakan turunan kedua. Mesin fotokopi dapat menggandakan cetakan turunan pertama. Tinta yang umum dipakai adalah toner, menggunakan teknologi elektrofotografi.

Press atau mesin cetak press, dicirikan dengan sistim mekanis yang mengandalkan penghantar (carrier) image untuk mereplikasi atau menggandakan suatu gambar yang sama ke material (kertas) cetak secara berulang dan terus menerus. Umum ditemukan pada alat cetak offset lithografi, yang memungkinkan melakukan pencetakan dalam ukuran kertas dan jumlah besar.

Dalam perkembangan mesin cetak aplikasi digital, dari ke tiga kelompok tersebut berkembang mesin campuran;
1. Printer Press
2. Press Printer
3. Scanner Printer.

Printer Press, sering disebut sebagai alat cetak printer (dokumen turunan pertama)kualitas tinggi baik hitam putih atau warna. Kecepatan mesin printer mencapai 50 lembar per menit atau lebih, yang dilengkapi dengan belt untuk mempercepat “delivery” dan menahan kertas dengan efek elektrik statik. Belt menggantikan fungsi roller yang sering menimbulkan masalah jamming untuk kecepatan tinggi. Alat printer ini memungkinkan membuat image yang dinamis / berubah pada photoconductor belt atau drum untuk setiap 50 lembar cetakan. Tak jarang alat printer ini dilengkapi dengan fasilitas penjilidan dan finishing.

Press Printer, alat mesin cetak offset press dengan proses pembuatan penghantar image langsung diatas mesin offset – tanpa proses prepress diluar mesin cetak, yang ditambahkan dengan alat cetak printer pada bagian akhir untuk memberikan informasi yang dinamis / berubah. Biasanya alat cetak printer tambahan ini menggunakan teknologi tinta inkjet.

Scanner Printer, alat cetak printer yang dilengkapi dengan peralatan scanner. Mesin cetak ini dilengkapi jaringan yang berhubungan dengan RIP, raster image processor, memungkinkan untuk melakukan modifikasi image hasil dari scanning. Jenis informasi adalah dokumen turunan pertama, ini berbeda dengan mesin copier yang sering rancu karena sama-sama menggunakan peralatan scanner.

Reproduksi Informasi
Untuk lebih memahami konsep digital printing, maka secara garis besar ada 2 kelompok reproduksi informasi;
1. Static printing
2. Dynamic Printing.

Static Printing, proses menggandakan informasi yang sama dan tetap dalam jumlah yang besar. Untuk merubah informasi dari satu hasil cetakan harus mengeluarkan daya upaya, biaya dan jumlah cetakan yang besar yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kita mengacu pada proses cetak tradisional seperti mesin cetak offset, dimana image carrier yaitu blanket memuat informasi yang sama dan tetap untuk sejumlah lembar cetakan.

Dynamic Printing, proses menggandakan suatu informasi yang bisa berubah-ubah untuk setiap lembar cetakan. Kita bisa mengacu pada mesin copier atau fotokopi, yang dapat menggandakan setiap lembar kertas dengan informasi berbeda tergantung pada informasi yang ingin dikopi.

Berdasarkan ciri dan sifat umum diatas maka dynamic printing banyak ditemukan pada peralatan, metoda dan teknologi digital printing. Kemampuan memberikan dinamika informasi terkait erat dengan penggunaan file dan/atau komputer itu sendiri. Komputer merupakan tonggak utama digital printing.

Parameter Reproduksi Informasi
Secara garis besar terdapat 2 kelompok parameter yaitu;
– Parameter utama dan
– Parameter pelengkap untuk membedakan Static and Dynamic Printing, dan sekaligus panduan dalam menggunakan masing-masing jenis cetakan.

Parameter utama, parameter yang bersifat unik dan khas dalam membedakan static dan dynamis printing, terdiri dari;
1. Image carrier
2. Variability informasi
3. Cycle time
4. Jumlah cetakan
5. Front cost
Lebih lanjut penjelasannya dapat dilihat paragraf berikut “Pendefinisian Digital Printing”.

Parameter pelengkap, parameter yang sifatnya terus berkembang dan berubah dimana suatu saat memungkinkan tidak adanya perbedaan berarti dan unik antara static dan dynamic printing, terdiri dari;
1. Kualitas cetakan
2. Jenis kertas
3. Ukuran kertas
4. Jenis material tinta
Lebih lanjut penjelasannya pada paragraf “Teknologi Peralatan Digital Printing”.

Pendefinisian Digital Printing
Dengan memahami parameter-parameter diatas dengan gampang kita melihat dan mendefinisikan multi aspek dan nama digital printing. Dynamic printing sendiri merupakan benang merah dari istilah digital printing, dimana penggunaan file komputer dan komputer merupakan cikal bakal perkembangan digital printing.

Perkembangan teknologi dari parameter-parameter utama reproduksi informasi menggiring perkembangan digital printing ke aspek-aspek, antara lain;

1. Direct Imaging;
Berkaitan dengan proses pembuatan “image carrier” (pengahantar image seperti plat dan blanket)

2. Variable Printing
Berkaitan dengan variable informasi

3. On-Demand Printing
Berkaitan dengan jumlah cetakan, cycle time dan front cost

4. Distributed Printing
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan

5. Digital Prepress dan Workflow
Berkaitan dengan teknologi file komputer itu sendiri yang bisa dipindahkan dan disimpan

Impact & Non-Impact printing
Apakah faktor impact dan non-impatc printing mempunyai dan berperanan dalam perkembangan digital printing?. Jawabannya iya dan tidak, pada awalnya semua digital printing mengacu pada non-impact printing wlaupun dengan teknologi direct imaging kita bisa bisa melakukan proses cetak lithografi yang impact printing.

Namun yang jelas istilah ini bukan menjadi faktor yang mendefinisikan digital printing.
Impact Printing, ditandadi dengan kontaknya pembawa image dengan material cetak (kertas, plastik).

Teknologi Peralatan Digital Printing
Perkembangan teknologi perlatan digital printing sangat dipengaruhi oleh penggunaaan material tinta, antara lain;
Tinta, toner, ink jet, dll

 

Desain Grafis

Filed under: Welcome Home ! — fabolousse7entd1 @ 12:50 pm

Pengertian Desain Grafis

Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan teks dan atau gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan. Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan termasuk tipografi, pengolahan gambar, dan page layout. Desainer grafis juga berperan dalam menata tampilan huruf dan ruang komposisi untuk menciptakan sebuah rancangan yang efektif dan komunikatif. Desain grafis melingkupi segala bidang yang membutuhkan penerjemahan bahasa verbal menjadi perancangan secara visual terhadap teks dan gambar pada berbagai media publikasi guna menyampaikan pesan-pesan kepada komunikan seefektif mungkin.

Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis komunikasi lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan (mendesain) atau pun produk yang dihasilkan (desain/rancangan). Desain grafis pada awalnya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik – yang sering kali disebut sebagai desain interaktif (interactive design), atau desain multimedia (multimedia design’)

Prinsip dan unsur desain

Unsur dalam desain grafis sama seperti unsur dasar dalam desain pada umumnya. Unsur-unsur tersebut (termasuk shape, bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna) membentuk prinsip-prinsip dasar desain visual. Prinsip-prinsip tersebut, seperti keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi (proportion) dan kesatuan (unity), kemudian membentuk aspek struktural komposisi yang lebih luas.

Peralatan desain grafis

Pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang (desainer) untuk melihat efek dari layout atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.

Pada umumnya komputer dianggap sebagai alat yang sangat diperlukan dalam industri desain grafis. Komputer dan aplikasi perangkat lunak umumnya dipandang, oleh para profesional kreatif, sebagai alat produksi yang lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan metode tradisional. Akan tetapi, beberapa perancang grafis melanjutkan penggunaan alat manual dan tradisional dalam berkarya, seperti misalnya Milton Glaser

Ada perdebatan mengenai apakah komputer meningkatkan proses kreatif dalam desain grafis. Produksi yang cepat dari komputer memungkinkan para perancang grafis untuk mengeksplorasi banyak ide secara cepat dan lebih detail dari yang bisa dicapai dengan kerja goresan tangan atau potong-tempel pada kertas. Akan tetapi, dihadapkan pada pilihan yang tak terbatas semacam ini kadangkala tidak menghasilkan solusi desain yang terbaik dan kadang hanya membuat berputar-putar tanpa hasil yang jelas

Ide-ide baru seringkali datang dengan uji coba pada alat dan metode, baik itu media tradisional maupun digital. Beberapa perancang grafis profesional mengeksplorasi ide menggunakan pensil di atas kertas untuk menghindari keterbatasan komputer, memungkinkan mereka berpikir di luar kotak. Beberapa ide kreatif dari desain grafis diawali serta dikembangkan bahkan sampai mendekati hasil akhir dalam pikiran, sebelum diterapkan baik dengan metode tradisional maupun komputer. Ada juga yang pembentukan visualisasi terbantu dengan penggunaan komputer dengan kemampuan pembuatan gambar yang kompleks dan cepat.

Seorang perancang grafis bisa juga menggunakan sketsa untuk mengeksplorasi ide-ide yang kompleks secara cepat tanpa pecah konsentrasi karena masalah teknis dari perangkat lunak komputer. “Comp” ( istilah dalam desain grafis yang merujuk pada rancangan awal untuk diajukan pada klien, kependekan dari comprehensive layout), buatan tangan seringkali dipakai untuk mendapatkan persetujuan dari sebuah ide desain grafis. Sketsa yang berupa thumbnail atau coretan-coretan rancangan kasar pada kertas bisa juga digunakan untuk menghasilkan ide dalam sebuah proses hybrida (gabungan antara penggunaan komputer dan goresan tangan). Proses hybrida semacam ini khususnya berguna pada pembuatan desain logo di mana masalah teknis dari perangkat lunak seringkali memecahkan konsentrasi. Proses hybrida juga dipakai untuk membebaskan kreativitas seseorang dalam pembuatan layout halaman atau pengembangan image. Seorang perancang grafis tradisional bisa juga mempekerjakan seniman produksi (production artist) yang mahir menggunakan komputer untuk mewujudkan ide dari sketsa yang dibuatnya.

Beberapa Software Dalam Desain Grafis

Perkembangan software tentunya akan menghasilkan gambar yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari penggunaan software. Ada beberapa software yang digunakan dalam hal desain grafis antara lain : 1. Adobe Photoshop 2. Adobe Illustrator 3. Adobe After Effect 4. AutoCad 5. Maya 4.5 6. CorelDraw 7. dll Dalam hal ini, untuk menghasilkan suatu gambar yang mempunyai nilai seni tinggi tidak sekedar pengguasaan software itu sendiri tetapi lebih cendrung kepada seni dan kreatifitas serta imajinasi dalam menuangkan ke dalam gambar tersebut

 

rat-a-too-ee 21 March, 2008

Filed under: Uncategorized — fabolousse7entd1 @ 4:32 pm

Sinopsis

Siapa yang tak kenal Remy ? Remy adalah seekor tikus yang memiliki impian untuk menjadi koki yang handal.  Ia tinggal bersama saudaranya Emile dan ayahnya Django. Tanpa sengaja ternyata ia tinggal di saluran air yang berada dibawah sebuah restoran di Paris milik Auguste Gusteau, yang merupakan inspirasi memasaknya. Meskipun ia merupakan suatu masalah bagi yang tak nampak dan tentu tak diinginkan. Bersama Languini hasrat Remy untuk memasak perlahan mulai terwujud melalui gerakan lucu dan mengairahkan yang dapat memutar balikkan dunia kulinari di Perancis .

 

Ratatouille

Merupakan nama salah satu masakan di Perancis. Film ini release mulai Juni 2007 oleh Pixar dan Walt Disney dengan durasi selama 111 menit.

Film ini sendiri telah mendapatkan banyak nominasi terutama dalam best animated picture dalam beberapa penganugerahan bergengsi tingkat dunia.

Ratatouille memecahkan record Nominasi Oscar  untuk nominasi terbanyak dalam computer animated film mengalahkan record yang dipegang sebelumnya oleh Monster Inc, Finding Nemo, dan The Incredibles dengan 4 nominasi. Tetapi bagaimanapun juga Beauty and The Beast tetap memegang record sebanyak 6 nominasi.

 

Awards & Nominations

Award

Category

Winner/Nominee

Result

Academy Awards

Animated Feature Film

Brad Bird

Won

Original Score

Michael Giacchino

Nominated

Original Screenplay

Screenplay by Brad Bird. Story by Jan Pinkava, Jim Capobianco, Brad Bird

Nominated

Sound Editing

Randy Thom and Michael Silvers

Nominated

Sound Mixing

Randy Thom, Michael Semanick and Doc Kane

Nominated

Annie Awards

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Best Animated Video Game

THQ, Inc

Won

Individual Achievement in Animated Effects

Gary Bruins

Nominated

Individual Achievement in Animated Effects

Jon Reisch

Nominated

Character Animation in a Feature Production

Michal Makarewicz

Won

Character Design in an Animated Feature Production

Carter Goodrich

Won

Directing in an Animated Feature Production

Brad Bird

Won

Music in an Animated Feature Production

Michael Giacchino

Won

Production Design in an Animated Feature Production

Harley Jessup

Won

Storyboarding in an Animated Feature Production

Ted Mathot

Won

Voice Acting in an Animated Feature Production

Janeane Garofalo as Colette

Nominated

Voice Acting in an Animated Feature Production

Ian Holm as Skinner

Won

Voice Acting in an Animated Feature Production

Patton Oswalt as Rémy

Nominated

Writing in an Animated Feature Production

Brad Bird

Won

Austin Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

BAFTA Awards

Best Animated Film

Brad Bird

Won

Boston Film Critics

Best Screenplay

Brad Bird

Won

Broadcast Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Chicago Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Best Screenplay – Original

Brad Bird

Nominated

Critics’ Choice Awards

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Dallas-Fort Worth Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Golden Globe Awards

Best Animated Feature Film

Pixar Animation Studios

Won

Grammy Awards

Best Score Soundtrack Album

Michael Giacchino

Won

Hollywood Film Festival

Movie of the Year

Pixar Animation Studios

Nominated

Special Honor for Animation

Pixar Animation Studios

Won

Las Vegas Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Best Family Film

Pixar Animation Studios

Won

Los Angeles Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

National Board of Review

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Oklahoma Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Online Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

People’s Choice Awards

Favorite Family Movie

Pixar Animation Studios

Nominated

Phoenix Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

San Diego Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Satellite Awards

Best Animated or Mixed Media Feature

Pixar Animation Studios

Won

Best Youth DVD

Pixar Animation Studios

Won

Best Original Score

Michael Giacchino

Nominated

St. Louis Gateway Film Critics

Best Animated Feature or Children’s Film

Pixar Animation Studios

Won

Toronto Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

Visual Effects Society

Best Supporting Visual Effects in a Motion Picture

Pixar Animation Studios

Won

Animated Character in an Animated Motion Picture

Pixar Animation Studios (Colette)

Won

Effects in an Animated Motion Picture

Pixar Animation Studios (Food)

Won

Washington D.C. Area Film Critics

Best Animated Feature

Pixar Animation Studios

Won

World Soundtrack Academy

Best Original Song Written for Film

Michael Giacchino for “Le Festin”

Nominated

 

rat  a too ee

 

Referense ( Daftar Pustaka ) 18 March, 2008

Filed under: Uncategorized — fabolousse7entd1 @ 6:20 am

Pendahuluan ( garis sejarah desain grafis ) :

http://www.tipsdesain.com/sejarah.html

Desain Grafis :

http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis

Percetakan dan Jenis-jenis Percetakan :

http://id.wikipedia.org/wiki/Percetakan

http://id.wikipedia.org/wiki/Cetak_offset

http://id.wikipedia.org/wiki/Rotogravure

http://www.kertasgrafis.com/?menu=IndustriCetak&nid=idj4k&id=5

Melawan penindasan Gaya dalam Desain Grafis :

http://senjahitam.blog.com

Art and craft movement:

http://eprints.utm.my/4588/1/KamarulAfiziKosmanKPFAB2006TTT.pdf

www.kompas.com

www.suarapembaruan.com

www.wikipedia.com

Art Nouveau :

Adityawan, Arief S. Tinjauan Desain Dari Revolusi industri hingga Posmoderen, Jakarta: UPT PENERBITAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA, 1999

http://artcyclopedia.com/history/art-nouveau.html

Art Deco :

http;//www.bandunghritage.org/index.php?option=com_content&task=view&i

http://id.wikipedia.org/wiki/Art_Deco

http://www.ranesi.nl/tema/budaya/art_deco_bali

http://arsitekturindis.com/index.php/archives/2003/04/01/spektrum-art-deco

De stijl :

http://www.artlex.com

http://www.vhrmedia.com

http://char.txa.cornell.edu/first.html

www.tipsdesain.com

www.wikipedia.com

www.wikimu.com

www.kilasan.com

www.geocities.com

www.kompas.com

http://www.hup.harvard.edu/index.html

Constructivism :

http://unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=2362&coid=3&caid=22

http://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism_(learning_theory)

www.cs.mcgill.ca

www.dartmouth.edu

www.artfacts.net

www.indiecult.com

www.rollins.edu

Bauhaus :

http://www.korantempo.com/news/2002/8/11/Arsitektur/1.html

Futurism :

http://www.flickr.com/photos/chicow/497022387

http://www.artrepublic.com/assets/artterms

http://www.repeatfanzine.co.uk/images/rant%20images/futurism.jpg

http://youlhwadang.co.kr/bookpic/tate/futurism-1.jpg

http://youlhwadang.co.kr/bookpic/tate/futurism-2.jpg

http://www.mbenzvi.com/images/futurism.jpg

http://www.recoil.org/~avsm/pics/backgrounds/futurism_1024x768.jpg

http://homepage.univie.ac.at/margarete.rubrik/images/futurism2.jpg

http://www.flickr.com/photos/fashioninspiration/1372921218/

http://www.photozo.com/album/data/7517/FUTURISM_CULT_ALT.jpg

http://www.pekin.net/pekin108/wilson/art/springart/compart04/yellowandbluesteams/images/futurism.jpg

http://forumdesain.com/showpost.php?p=176&postcount=5

http://id.wikipedia.org/wiki/Futurisme

http://www.forumdesain.com/showthread.php?t=17

Pengaruh-pengaruh aliran desain :

http://id.wiki.detik.com/wiki/Tipografi_modern

Atmadi, Parmono dkk (1997), Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitek di Indonesia, Gajah Mada University Press.

Benedikt, Michael (1991), Deconstructing The Kimbell: An Essay on meaning and Architecture, New York: Site Books.

http://digilib.ti.itb.ac.id

http://bz.blogfam.com

http://www.arsitekturindis.com

http://www.wikimu.com

http://kisawung.multiply.com

Melawan Penindasan Gaya Dalam Desain Grafis :

http://senjahitam.blog.com/

Nama penulis : senja

senja

 

Garis Waktu Sejarah Desain Grafis 15 March, 2008

Filed under: Desain Grafis — fabolousse7entd1 @ 4:08 pm

Garis Waktu Sejarah Desain Grafis

Desain grafis berkembang pesat seiring dengan perkembangan sejarah peradaban manusia saat ditemukan tulisan dan mesin cetak. Perjalanan desain dan gaya huruf latin mulai diterapkan pada awal masa kejayaan kerajaan ROMAWI. Kejayaan kerajaan Romawi di abad pertama yang berhasil menaklukkan Yunani, membawa peradaban baru dalam sejarah Barat dengan diadaptasikannya kesusasteraan, kesenian, agama, serta alfabet Latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya alfabet Latin hanya terdiri dari 21 huruf : A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan dalam alfabet Latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan J, U dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlah keseluruhan alfabet Latin menjadi 26.

Ketika perguruan tinggi pertama kali berdiri di Eropa pada awal milenium kedua, buku menjadi sebuah tuntutan kebutuhan yang sangat tinggi. Teknologi cetak belum ditemukan pada masa itu, sehingga sebuah buku harus disalin dengan tangan. Konon untuk penyalinan sebuah buku dapat memakan waktu berbulan-bulan. Guna memenuhi tuntutan kebutuhan penyalinan berbagai buku yang semakin meningkat serta untuk mempercepat kerja para penyalin (scribes), maka lahirlah huruf Blackletter Script, berupa huruf kecil yang dibuat dengan bentuk tipis-tebal dan ramping. Efisiensi dapat terpenuhi lewat bentuk huruf ini karena ketipis tebalannya dapat mempercepat kerja penulisan. Disamping itu, dengan keuntungan bentuk yang indah dan ramping, huruf-huruf tersebut dapat ditulisakan dalam jumlah yang lebih banyak diatas satu halaman buku.

Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perkembangan desain grafis. Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan pada tahun 1447 dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa.

1851, The Great Exhibition

Diselenggarakan di taman Hyde London antara bulan Mei hingga Oktober 1851,pada saat Revolusi industri. Pameran besar ini menonjolkan budaya dan industri serta merayakan teknologi industri dan disain. Pameran digelar dalam bangunan berupa struktur besi-tuang dan kaca, sering disebut juga dengan Istana Kristal yang dirancang oleh Joseph Paxton.


1892, Aristide Bruant, Toulouse-Lautrec

Pelukis post-Impressionist dan ilustrator art nouveau Prancis, Henri Toulouse-Lautrec melukiskan banyak sisi Paris pada abad ke sembilan belas dalam poster dan lukisan yang menyatakan sebuah simpati terhadap ras manusia. Walaupun lithography ditemukan di Austria oleh Alois Senefelder pada tahun 1796, Toulouse-Lautrec membantu tercapainya peleburan industri dan seni.

1910, Modernisme

Modernisme terbentuk oleh urbanisasi dan industrialisasi dari masyarakat Barat. Sebuah dogma yang menjadi nafas desain modern adalah “Form follow Function” yang di lontarkan oleh Louis Sullivan.Symbol terkuat dari kejayan modernisme adalah mesin yang juga diartikan sebagai masa depan bagi para pengikutnya. Desain tanpa dekorasi lebih cocok dengan ´bahasa mesin´, sehingga karya-karya tradisi yang bersifat ornamental dan dekoratif dianggap tidak sesuai dengan ´estetika mesin´

1916, Dadaisme

Suatu pergerakan seni dan kesusasteraan (1916-23) yang dikembangkan mengikuti masa Perang Dunia Pertama dan mencari untuk menemukan suatu kenyataan asli hingga penghapusan kultur tradisional dan bentuk estetik. Dadaism membawa gagasan baru, arah dan bahan, tetapi dengan sedikit keseragaman. Prinsipnya adalah ketidakrasionalan yang disengaja, sifat yang sinis dan anarki, dan penolakan terhadap hukum keindahan.

1916, De Stijl

Gaya yang berasal dari Belanda, De Stijl adalah suatu seni dan pergerakan disain yang dikembangkan sebuah majalah dari nama yang sama ditemukan oleh Theo Van Doesburg. De Stijl menggunakan bentuk segi-empat kuat, menggunakan warna-warna dasar dan menggunakan komposisi asimetris. Gambar dibawah adalah Red and Blue Chair yang dirancang oleh Gerrit Rietveld.

1918, Constructivism

Suatu pergerakan seni modern yang dimulai di Moscow pada tahun 1920, yang ditandai oleh penggunaan metoda industri untuk menciptakan object geometris. Constructivism Rusia berpengaruh pada pandangan moderen melalui penggunaan huruf sans-serif berwarna merah dan hitam diatur dalam blok asimetris. Gamabr dibawah adalah model dari Menara Tatlin, suatu monumen untuk Komunis Internasional.

1919, Bauhaus

Bauhaus dibuka pada tahun 1919 di bawah arahan arsitek terkenal Walter Gropius. Sampai akhirnya harus ditutup pada tahun 1933, Bauhaus memulai suatu pendekatan segar untuk mendisain mengikuti Perang Duni Pertama, dengan suatu gaya yang dipusatkan pada fungsi bukannya hiasan.


1928-1930, Gill Sans

Tipograper Eric Gill belajar pada Edward Johnston dan memperhalus tipe huruf Underground ke dalam Gill Sans. Gill Sans adalah sebuah jenis huruf sans serif dengan proporsi klasik dan karakteristik geometris lemah gemulai yang memberinya suatu kemampuan beraneka ragam (great versatility).


1931, Harry Beck

Perancang grafis Harry Back ( 1903-1974) menciptakan peta bawah tanah London (London Underground Map) pada tahun 1931. Sebuah pekerjaan abstrak yang mengandung sedikit hubungan ke skala fisik. Beck memusatkan pada kebutuhan pengguna dari bagaimana cara sampai dari satu stasiun ke stasiun yang lain dan di mana harus berganti kereta.

1950s, International Style

International atau Swiss style didasarkan pada prinsip revolusioner tahun 1920an seperti De Stijl, Bauhaus dan Neue Typography, dan itu menjadi resmi pada tahun 1950an. Grid, prinsip matematika, sedikit dekorasi dan jenis huruf sans serif menjadi aturan sebagaimana tipografi ditingkatkan untuk lebih menunjukkan fungsi universal daripada ungkapan pribadi.

1951, Helvetica

Diciptakan oleh Max Miedinger seorang perancang dari Swiss, Helvetica adalah salah satu tipe huruf yang paling populer dan terkenal di dunia. Berpenampilan bersih, tanpa garis-garis tak masuk akal berdasarkan pada huruf Akzidenz-Grotesk. Pada awalnya disebut Hass Grostesk, nama tersebut diubah menjadi Helvetica pada tahun 1960. Helvetica keluarga mempunyai 34 model ketebalan dan Neue Helvetica mempunyai 51 model.

1960s, Psychedelia and Pop Art

Kultur yang populer pada tahun 1960an seperti musik, seni, disain dan literatur menjadi lebih mudah diakses dan merefleksikan kehidupan sehari-hari. Dengan sengaja dan jelas, Pop Art berkembang sebagai sebuah reaksi perlawanan terhadap seni abstrak. Gambar dibawah adalah sebuah poster karya Milton Glaser yang menonjolkan gaya siluet Marcel Duchamp dikombinasikan dengan kaligrafi melingkar. Di cetak lebih dari 6 juta eksemplar.


1984, Émigré

Majalah disain grafis Amerika, Émigré adalah publikasi pertama untuk menggunakan komputer Macintosh, dan mempengaruhi perancang grafis untuk beralih ke desktop publishing ( DTP). Majalah ini juga bertindak sebagai suatu forum untuk eksperimen tipografi.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.